Blora – Sebuah angin segar datang dari dunia pendidikan Blora, Jawa Tengah. Sekolah Rakyat Blora, sebuah inisiatif pendidikan alternatif berbasis masyarakat, dipastikan akan mulai beroperasi pada awal Juli 2025. Meski belum resmi dibuka, antusiasme masyarakat sangat tinggi: hingga akhir Juni ini, tercatat sebanyak 50 calon siswa telah mendaftarkan diri.
Sekolah ini berdiri atas semangat gotong royong dan keprihatinan terhadap anak-anak kurang mampu yang sulit mengakses pendidikan formal berkualitas. Bertempat di sebuah bangunan sederhana yang telah direnovasi di wilayah Kecamatan Blora Kota, Sekolah Rakyat menawarkan model pendidikan berbasis komunitas yang inklusif, tanpa pungutan biaya alias gratis.
Pendidikan Alternatif untuk Masyarakat Marginal
Inisiator program, Sukirno, seorang aktivis pendidikan yang telah lama berkecimpung dalam kegiatan sosial, menyebut Sekolah Rakyat sebagai “jawaban dari keresahan panjang masyarakat bawah akan mahal dan rumitnya akses pendidikan.” Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada kurikulum akademik, tapi juga pada nilai-nilai kehidupan, karakter, keterampilan praktis, dan kemandirian.
“Kami ingin menciptakan ruang belajar yang tidak hanya mengajar matematika atau bahasa, tapi juga mendidik tentang hidup, tentang tanggung jawab, kerja keras, dan solidaritas,” kata Sukirno saat ditemui, Sabtu (28/6).
Sekolah Rakyat Blora akan mengajar siswa dari jenjang SD hingga SMP, dengan pendekatan multigrade—yakni satu kelas bisa berisi siswa dari tingkat usia atau jenjang berbeda. Model ini diadaptasi dari beberapa sekolah alternatif di daerah tertinggal yang telah terbukti sukses, seperti Sekolah Qaryah Thayyibah di Salatiga atau Sekolah Kanisius di wilayah NTT.
Tenaga Pengajar Relawan dan Metode Fleksibel
Sebagian besar pengajar di Sekolah Rakyat merupakan relawan. Mereka berasal dari latar belakang beragam, mulai dari pensiunan guru, mahasiswa pendidikan, hingga profesional yang ingin berkontribusi dalam bidang sosial.
Salah satu relawan guru, Nurul Aini, mengaku tertarik karena konsep sekolah ini sejalan dengan idealismenya.
“Selama ini pendidikan terlalu kaku dan tidak memanusiakan murid. Di sini kami bisa mengajar dengan pendekatan personal, sambil terus belajar dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak-anak,” jelasnya.
Metode belajar yang diterapkan akan fleksibel, banyak mengandalkan diskusi, bermain peran, prakarya, serta belajar di alam. Sistem penilaian pun tidak berbasis angka, melainkan berbasis kemajuan personal dan laporan naratif perkembangan siswa.
Lihat Juga: SR Blora Siap Beroperasi Awal Juli, 50 Calon Siswa Sudah Daftar
Pendaftaran Masih Dibuka
Dengan kuota awal sebanyak 60 siswa, Sekolah Rakyat Blora kini sudah menerima 50 calon siswa. Para pendaftar datang dari berbagai latar belakang: anak-anak buruh harian, petani kecil, hingga mereka yang sebelumnya putus sekolah.
“Kami tidak menolak siapa pun, asal orang tua dan anak bersungguh-sungguh ingin belajar,” ujar Nur Hidayati, koordinator penerimaan siswa baru. Ia juga menambahkan bahwa pendaftaran masih dibuka hingga 5 Juli, dengan proses seleksi yang bersifat dialogis dan tidak berdasarkan tes akademik.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Meskipun banyak pihak mendukung, tantangan besar masih menghadang Sekolah Rakyat Blora. Ketersediaan dana, perlengkapan belajar, dan keberlanjutan program menjadi fokus utama pengurus. Hingga kini, sekolah ini bertahan dari donasi individu dan bantuan komunitas.
Namun, semangat kolektif dan keyakinan akan pentingnya pendidikan untuk semua menjadi bahan bakar utama.
“Kami yakin, jika masyarakat saling mendukung dan pemerintah turut melihat potensi pendidikan alternatif ini, maka Sekolah Rakyat bisa menjadi model untuk tempat lain,” tutup Sukirno.
Sekolah Rakyat Blora akan menjadi bagian penting dari gerakan pendidikan akar rumput di Indonesia. Dalam dunia yang masih dihantui ketimpangan akses pendidikan, inisiatif semacam ini bisa menjadi obor harapan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan. Awal Juli nanti akan menjadi tonggak penting: lahirnya sekolah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.






