Blora – Kebakaran hebat melanda kawasan pemukiman padat penduduk di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (28/6/2025). Empat rumah warga dilaporkan ludes terbakar akibat insiden yang diduga dipicu oleh konsleting listrik. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Kejadian nahas itu terjadi di Dukuh Karangturi, Desa Temurejo, Kecamatan Blora, sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu, warga sedang bersiap melaksanakan salat Isya dan sebagian sedang berkumpul di luar rumah menikmati udara malam. Tiba-tiba terdengar suara letupan dari salah satu rumah, disusul munculnya kobaran api yang dengan cepat membesar dan merembet ke rumah di sekitarnya.
Api Menjalar Cepat di Pemukiman Padat
Menurut penuturan salah satu saksi mata, Sutrisno (54), api pertama kali muncul dari rumah milik Mbah Kaslan (70), seorang petani yang tinggal bersama anak dan cucunya. “Awalnya cuma kelihatan asap dari atas plafon, terus tiba-tiba langsung ada percikan dan api besar keluar dari atap. Dalam waktu lima menit, rumah itu sudah habis terbakar,” ujarnya.
Karena rumah-rumah di lokasi kejadian saling berdempetan dan sebagian besar masih berbahan kayu dan anyaman bambu, api dengan cepat menjalar ke tiga rumah lainnya milik warga bernama Sarni (45), Wahyono (60), dan Kardi (50). Warga yang panik sempat berusaha memadamkan api secara manual dengan ember air dan alat seadanya, namun api terlalu besar dan sulit dikendalikan.
Pemadam Kebakaran Datang Terlambat
Mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Blora baru tiba sekitar 25 menit setelah kejadian, akibat akses jalan menuju lokasi yang sempit dan macet oleh kerumunan warga. Meski akhirnya berhasil menjinakkan api sekitar pukul 21.00 WIB, namun keempat rumah telah habis dilalap si jago merah.
“Tim kami bergerak secepat mungkin setelah menerima laporan, tapi memang kondisi lapangan cukup menyulitkan. Jalan masuk hanya cukup untuk satu kendaraan kecil, jadi kami harus ekstra hati-hati. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” ujar Komandan Regu Damkar Blora, Subur Santoso.
Lihat Juga: Konsleting Listrik Picu Kebakaran di Blora, 4 Rumah Warga Ludes
Dugaan Konsleting Listrik
Hasil penyelidikan awal oleh petugas gabungan dari Damkar dan Polsek Blora menunjukkan indikasi kuat bahwa penyebab kebakaran adalah konsleting listrik. Api diduga berasal dari hubungan arus pendek pada instalasi kabel lama di rumah Mbah Kaslan yang sudah beberapa kali bermasalah.
Kapolsek Blora, AKP Nur Hidayat, menyatakan, “Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut, namun sementara ini kuat dugaan bahwa penyebab utama adalah konsleting dari kabel instalasi listrik. Tidak ditemukan unsur kesengajaan atau sabotase.”
Warga Mengungsi, Bantuan Mendesak
Akibat kebakaran ini, empat kepala keluarga dengan total 17 jiwa harus mengungsi. Mereka saat ini menumpang sementara di rumah saudara dan tetangga sekitar. Pemerintah Desa Temurejo bersama BPBD Kabupaten Blora telah mendirikan posko darurat dan menyalurkan bantuan awal berupa makanan cepat saji, selimut, dan pakaian layak pakai.
Kepala Desa Temurejo, Rina Sugiarti, mengaku prihatin dan berharap perhatian dari pemerintah kabupaten. “Kami berharap bantuan segera datang, terutama untuk membangun kembali rumah warga yang terbakar. Mereka kehilangan semuanya, dari dokumen penting, alat-alat rumah tangga, sampai pakaian,” ucapnya.
Imbauan Pemerintah: Periksa Instalasi Listrik
Pemerintah Kabupaten Blora mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya kebakaran akibat listrik. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Blora, Bambang Hadi, mengingatkan agar warga secara berkala memeriksa instalasi listrik, terutama di rumah-rumah lama yang masih menggunakan kabel usang.
“Kita akan berkoordinasi dengan PLN dan aparat desa untuk melakukan pengecekan massal di wilayah padat penduduk. Jangan anggap remeh kabel yang kelihatannya sepele, karena bisa berakibat fatal,” tegasnya.
Penutup
Kebakaran di Blora ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan instalasi listrik dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Di tengah kesedihan yang melanda para korban, solidaritas warga dan respons cepat dari aparat menjadi kunci dalam meringankan beban. Pemerintah daerah pun diharapkan segera turun tangan memberikan bantuan nyata bagi korban agar bisa segera bangkit dan melanjutkan hidup.








