Perang 12 Hari: Yang Diperoleh Trump, Netanyahu, dan Khamenei?

Perang 12 hari yang mengguncang Timur Tengah kembali menarik perhatian dunia. Serangan rudal, serbuan udara, dan konflik senjata di lapangan tidak hanya menelan korban jiwa, namun juga membuka babak baru dalam geopolitik global. Pertanyaannya kini: siapa yang diuntungkan? Dalam drama militer dan diplomatik ini, tiga tokoh besar muncul di panggung utama—Donald Trump (mantan Presiden AS), Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel), dan Ayatollah Ali Khamenei (Pemimpin Tertinggi Iran). Apa yang mereka peroleh dari konflik ini


I. Latar Belakang: Api Lama yang Menyala Lagi

Konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di wilayah Gaza, Lebanon Selatan, serta dukungan langsung maupun tidak langsung dari Iran, bukanlah hal baru. Namun perang kali ini—yang berlangsung selama 12 hari penuh sejak awal Juni 2025—terjadi dalam konteks politik yang berbeda. Perang tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga simbolik, antara blok pro-Barat, aliansi Teluk, dan kubu poros perlawanan yang dikomandoi Teheran.


II. Benjamin Netanyahu: Antara Peluang Politik dan Risiko Internasional

1. Konsolidasi Politik Dalam Negeri
Bagi Benjamin Netanyahu, perang ini terjadi di tengah tekanan politik domestik. Setelah sekian lama menghadapi skandal korupsi dan ancaman jatuhnya koalisi pemerintah, perang justru memberinya ruang manuver. Dalam situasi krisis, opini publik Israel cenderung berkumpul di sekitar pemimpin yang menunjukkan sikap tegas terhadap “musuh eksternal.”

2. Peningkatan Legitimasi Internasional
Netanyahu kembali memposisikan dirinya sebagai benteng pertahanan Israel. Dengan memanfaatkan serangan dari Gaza dan Hizbullah, dia membenarkan serangan balasan besar-besaran, dan mendorong dukungan dari sekutu barat termasuk AS, Inggris, dan Perancis.

3. Tapi Apa Risikonya?
Kritik internasional terhadap korban sipil terus meningkat. Hubungan Israel dengan beberapa negara Arab—yang telah membaik lewat Abraham Accords—kembali retak. Ketegangan ini bisa menggagalkan rencana normalisasi yang sedang dibangun.


III. Ayatollah Ali Khamenei: Melejitnya Poros Perlawanan

1. Iran Semakin Percaya Diri
Iran menunjukkan pengaruh nyatanya melalui Hizbullah di Lebanon dan milisi di Gaza yang diyakini didukung Iran. Di mata dunia Islam, peran Iran sebagai ‘pelindung’ Palestina mendapat tempat terhormat.

2. Uji Coba Teknologi Militer Baru?
Beberapa analis mencurigai bahwa perang ini dimanfaatkan Iran untuk menguji kemampuan rudal jarak menengah dan sistem serangan elektronik. Beberapa rudal yang menghantam wilayah Israel diduga memiliki presisi dan jangkauan lebih tinggi dari sebelumnya.

3. Diplomasi Anti-Barat Kembali Naik Daun
Narasi anti-Amerika dan anti-Israel kembali menguat di kawasan Timur Tengah. Iran, di bawah Khamenei, memanfaatkan ini untuk memperkuat hubungan dengan Rusia, Tiongkok, dan bahkan beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin.

Lihat Juga: Perang 12 Hari Berakhir: Apa yang Diperoleh Trump, Netanyahu, dan Khamenei?


IV. Donald Trump: Maju Kembali ke Panggung Politik

1. Retorika Kemenangan dari Jarak Jauh
Meski tidak lagi menjabat, Donald Trump dengan cepat merespons konflik ini. Lewat kampanyenya untuk Pilpres 2026, ia menyebut bahwa perang ini terjadi karena “kelemahan” pemerintahan Biden dalam menangani Iran dan Israel.

2. Basis Konservatif Menguat
Konflik di Timur Tengah kerap digunakan Trump untuk memobilisasi basis konservatif dan evangelis AS yang pro-Israel. Ia menegaskan kembali keberhasilannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan membangun “perdamaian” lewat Abraham Accords.

3. Ancaman atau Peluang?
Namun, kedekatan Trump dengan Netanyahu bisa menjadi pedang bermata dua. Jika konflik ini dinilai menciptakan penderitaan kemanusiaan yang meluas, citra Trump bisa terkena imbas buruk di kalangan pemilih moderat.


V. Siapa yang Menang, Siapa yang Rugi?

Korban Sipil sebagai Taruhan Politik
Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas, sebagian besar warga sipil di Gaza dan Lebanon. Infrastruktur luluh lantak. Rumah sakit kewalahan. Di pihak Israel, trauma psikologis dan korban sipil juga terjadi akibat rudal jarak jauh.

Namun di atas reruntuhan itu, tokoh-tokoh besar ini mengukir keuntungan strategis:

  • Netanyahu mendapat legitimasi politik, namun dengan risiko kecaman internasional.
  • Khamenei memperkuat posisi Iran sebagai aktor regional yang disegani.
  • Trump memperoleh momentum untuk kembali ke panggung nasional AS.

VI. Kesimpulan: Perang Sebagai Investasi Kekuasaan

Perang bukan sekadar benturan senjata. Ia adalah kalkulasi geopolitik, investasi kekuasaan, dan panggung pencitraan. Dalam Perang 12 Hari, penderitaan rakyat menjadi latar panggung bagi manuver tiga tokoh besar ini. Dunia mungkin menyebutnya tragedi, tetapi bagi sebagian elit politik, ini adalah peluang.

Apakah kedamaian akan datang setelah ini?
Seperti biasa, itu bergantung bukan hanya pada kehendak rakyat, tapi pada siapa yang masih merasa untung dalam pertumpahan darah berikutnya.


Related Posts

Geger! 90% Menteri Kabinet Prabowo-Gibran Dituding Koruptor!

Jakarta, 12 Juli 2025 — Sebuah kabar mengejutkan menggegerkan publik Tanah Air. Isu bahwa 90 persen menteri dalam Kabinet Indonesia Maju jilid II yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan…

Inilah Alasan Kenapa Pak Jokowi Semakin Difitnah, Semakin Abadi

Solo Surakarta – Presiden Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, adalah sosok pemimpin yang sejak awal kemunculannya di panggung politik nasional telah menuai pujian sekaligus kritik. Namun, yang menarik…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *