Jakarta — Keputusan pemerintah menonaktifkan 7,3 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari daftar BPJS Kesehatan menuai sorotan publik. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran luas terkait potensi meningkatnya jumlah masyarakat miskin yang tidak lagi memiliki jaminan kesehatan. Lantas, bagaimana tanggapan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti?
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (24/6), Ali Ghufron menjelaskan bahwa penonaktifan 7,3 juta peserta PBI JKN bukan merupakan keputusan sepihak dari BPJS Kesehatan, melainkan hasil verifikasi dan validasi data yang dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Menurutnya, BPJS Kesehatan hanya menjalankan keputusan berdasarkan data yang diterima dari lembaga terkait.
“Kami hanya sebagai eksekutor. Data peserta PBI ditentukan oleh Kemensos melalui sistem Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” tegas Ghufron.
Ia menambahkan, penonaktifan ini dilakukan dalam rangka cleansing data agar alokasi dana subsidi pemerintah lebih tepat sasaran. Dari hasil pembaruan data, jutaan peserta tersebut dinyatakan tidak lagi memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan iuran karena berbagai alasan, mulai dari peningkatan status ekonomi, data ganda, hingga status kependudukan yang tidak valid.
Menjaga Keberlanjutan Program JKN
Ghufron menilai, langkah ini juga penting untuk menjaga keberlanjutan program JKN yang semakin mengalami tekanan pembiayaan. Dengan beban keuangan yang terus meningkat, pemerintah harus memastikan bahwa subsidi yang diberikan benar-benar dinikmati oleh masyarakat miskin dan rentan yang memang layak.
“PBI JKN itu disubsidi penuh oleh pemerintah. Kalau datanya tidak valid, anggaran bisa bocor dan tidak tepat sasaran. Ini langkah menuju efisiensi dan keadilan sosial,” katanya.
Namun demikian, Ghufron mengakui bahwa ada kemungkinan terjadinya kesalahan dalam proses verifikasi data. Oleh sebab itu, BPJS Kesehatan membuka pintu bagi masyarakat yang merasa berhak mendapatkan bantuan namun telah dinonaktifkan.
“Kami mengimbau masyarakat yang terdampak untuk segera melapor ke Dinas Sosial atau kelurahan agar dilakukan verifikasi ulang. Bisa juga ke kantor BPJS Kesehatan untuk mendapatkan pendampingan,” jelasnya.
Efek Domino di Lapangan
Seiring dengan penonaktifan massal ini, beberapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai daerah mulai mengeluhkan adanya penurunan kunjungan pasien PBI. Sejumlah laporan media daerah menunjukkan bahwa warga miskin yang dulu rutin berobat kini enggan datang karena takut harus membayar biaya secara mandiri.
Menanggapi hal ini, Ghufron mengatakan bahwa BPJS Kesehatan terus melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk memastikan tidak ada masyarakat miskin yang benar-benar kehilangan akses layanan kesehatan.
“Kami tidak tinggal diam. Jika memang ada masyarakat tidak mampu yang tidak terdaftar, kami bantu fasilitasi untuk didaftarkan kembali ke DTKS,” imbuhnya.
Lihat Juga: Tanggapan Dirut BPJS Kesehatan Soal 7,3 Juta PBI JKN Nonaktif?
Perlu Reformasi Data Sosial
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya reformasi data sosial di Indonesia. Pemerintah daerah dituntut lebih aktif dan akurat dalam memperbarui data masyarakat miskin. Tanpa data yang valid, kebijakan publik akan selalu menghadapi risiko eksklusi dan ketidakadilan.
Ali Ghufron berharap agar proses pembaruan data dilakukan secara berkala, dengan melibatkan berbagai unsur — mulai dari RT/RW hingga kecamatan dan dinas sosial.
“Jangan sampai orang miskin justru tidak terdata, sementara yang mampu masih dapat subsidi. Itu yang kami hindari,” katanya.
Kesimpulan
Penonaktifan 7,3 juta peserta PBI JKN menjadi alarm penting tentang pentingnya validitas data penerima bantuan sosial. BPJS Kesehatan, sebagai pelaksana program, menegaskan bahwa proses ini bertujuan untuk menyehatkan sistem dan memastikan anggaran subsidi tepat sasaran. Namun, proses transisi ini juga perlu diiringi dengan kepedulian dan respons cepat terhadap warga miskin yang terancam kehilangan akses layanan kesehatan.
Ke depan, sinergi antara Kemensos, BPJS Kesehatan, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar program JKN tetap berjalan adil dan berkelanjutan, serta tidak meninggalkan mereka yang benar-benar membutuhkan.








