Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, kembali menjadi sorotan publik setelah melontarkan pernyataan tajam terkait polemik lama soal ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah kesempatan pidato internal partai yang digelar secara tertutup namun videonya beredar di media sosial, Megawati menyentil pihak-pihak yang dianggap mempersulit transparansi soal dokumen akademik Jokowi.
“Kalau betul (ijazahnya), ya kasih aja. Kok susah amat sih?” ujar Megawati dengan nada kesal dalam video tersebut, yang kemudian viral dan memunculkan berbagai spekulasi serta tanggapan dari masyarakat dan pengamat politik.
Pernyataan yang Menyentil Banyak Arah
Pernyataan Megawati dinilai sebagai sindiran keras bukan hanya kepada pihak-pihak yang selama ini mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi, tetapi juga kepada lingkaran kekuasaan yang terkesan tidak terbuka dalam merespons isu tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, isu mengenai keaslian ijazah Jokowi memang muncul secara sporadis dan dijadikan bahan perdebatan di media sosial maupun forum hukum.
Megawati yang selama ini dikenal loyal terhadap Jokowi, kini tampil dengan nada yang berbeda. Meskipun tidak menyebut nama, publik menilai pernyataan tersebut jelas mengarah kepada keraguan publik yang tak kunjung diredam oleh klarifikasi terbuka dari pihak terkait.
Respons Publik dan Elit Politik
Pernyataan Megawati memicu reaksi luas. Di media sosial, berbagai tagar seperti #IjazahJokowi dan #MegawatiTrending kembali mencuat. Sebagian netizen menyambut pernyataan Megawati sebagai bentuk keberanian untuk menagih keterbukaan informasi, terutama dari pejabat publik. Sementara yang lain mempertanyakan, mengapa baru sekarang Megawati menyuarakan hal tersebut.
Politikus dari berbagai partai turut memberikan komentar. Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Ahmad Ali, menyatakan bahwa keterbukaan informasi merupakan kewajiban setiap pejabat negara. “Kalau memang tak ada yang disembunyikan, mengapa tidak dibuka saja semuanya ke publik?” ujarnya.
Sedangkan dari kubu Istana, belum ada pernyataan resmi yang merespons ucapan Megawati secara langsung. Juru Bicara Presiden masih menahan diri dari komentar, dan hanya menyatakan bahwa “semua tudingan mengenai keabsahan ijazah Presiden telah dibuktikan sah secara hukum.”
Lihat Juga: Megawati Sentil Soal Ijazah Jokowi: “Kalau Betul, Ya Kasih Aja!
Riwayat Polemik Ijazah Jokowi
Polemik ijazah Presiden Jokowi bermula dari gugatan sejumlah pihak yang mempertanyakan keaslian dokumen akademik beliau, baik saat lulus dari SMA maupun Universitas Gadjah Mada (UGM). Gugatan ini bahkan sempat masuk ke ranah pengadilan, namun dalam beberapa kasus, pengadilan menyatakan bahwa dokumen-dokumen tersebut sah.
Pihak UGM juga telah beberapa kali menyatakan bahwa Jokowi benar lulusan universitas tersebut dari Fakultas Kehutanan tahun 1985. Namun, karena sebagian pihak tetap meragukan keabsahan dokumen-dokumen itu, isu ini terus bergaung, meskipun tak pernah benar-benar terbukti adanya pemalsuan.
Pertanda Retaknya Hubungan Politik?
Pernyataan Megawati juga dinilai sebagai sinyal politik yang penting. Pengamat politik dari LIPI, Dr. Indra Wibowo, mengatakan bahwa hal ini bisa menjadi isyarat keretakan hubungan antara Megawati dan Jokowi menjelang pergantian kekuasaan. “Megawati mungkin merasa ada ketimpangan komunikasi politik dengan Jokowi, terutama setelah PDIP tidak diberikan porsi signifikan dalam pemerintahan mendatang,” ujarnya.
Spekulasi ini diperkuat oleh dinamika politik menjelang akhir masa jabatan Jokowi, terutama setelah manuver PDIP yang kini mulai mengambil jarak dari Istana dan lebih mendekat ke kekuatan baru yang akan berkuasa pasca Pilpres 2024.
Kesimpulan
Pernyataan Megawati soal ijazah Jokowi menjadi sebuah babak baru dalam dinamika politik nasional. Di tengah transisi kekuasaan dan perubahan peta aliansi, sindiran ini menandai bahwa ketegangan internal di antara kekuatan lama dan baru makin terasa.
Apakah ini hanya sekadar luapan emosi pribadi atau sinyal perubahan arah politik PDIP pasca Jokowi? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti, keterbukaan dan kejujuran tetap menjadi tuntutan utama publik terhadap para pemimpin negeri ini.








