Blora, Jawa Tengah — Di tengah geliat eksplorasi energi nasional, nama Blora seharusnya mencuat sebagai salah satu tonggak sejarah penting dalam perjalanan minyak bumi Indonesia. Namun, dalam lembaran sejarah nasional yang sering kali bias pada pusat-pusat kekuasaan kolonial, fakta sejarah tentang penemuan minyak bumi pertama di Blora kerap terabaikan atau terdistorsi. Sudah saatnya sejarah ini diluruskan, agar generasi masa kini mengenali warisan energi yang dimiliki daerah ini dan kontribusinya yang sangat awal dalam industri minyak tanah air.
Penemuan Awal yang Terlupakan
Pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1880-an, kawasan Cepu—yang berada di wilayah perbatasan Blora dan Bojonegoro—menjadi saksi penemuan cadangan minyak bumi pertama di Hindia Belanda. Kala itu, sumur minyak yang dikenal sebagai “Sumur Tua Ledok” dan “Sumur Semanggi” mulai mengejutkan para peladang dan warga lokal karena semburan cairan hitam pekat dari tanah yang mudah terbakar.
Menurut catatan sejarah lokal, aktivitas pengeboran pertama dilakukan bukan oleh perusahaan besar, melainkan oleh warga lokal dan para pemodal kecil, termasuk pribumi. Namun, penemuan ini kemudian diambil alih dan dimonopoli oleh pihak kolonial Belanda melalui perusahaan bernama Djongkersche Petroleum Maatschappij dan kelak menjadi bagian dari perusahaan besar BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij), cikal bakal dari Royal Dutch Shell.
Cepu, Blora atau Bojonegoro? Sengketa Sejarah dan Wilayah
Penulisan sejarah minyak bumi sering mengabaikan peran Blora sebagai lokasi penemuan awal dan lebih banyak menyebut Bojonegoro. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh lokasi Cepu yang secara administratif kini masuk wilayah Bojonegoro, namun secara geografis dan historis sangat terkait dengan Blora. Bahkan, banyak sumur minyak tua dan kamp pekerja minyak saat itu berada di wilayah hutan-hutan milik Perhutani di Blora.
“Sebenarnya banyak sekali sumur minyak tua yang sekarang dikelola rakyat berada di hutan-hutan kawasan Blora. Tapi karena markas besar perminyakan dulu dibangun di sisi barat, yaitu Cepu-Bojonegoro, maka orang mengira semuanya milik Bojonegoro,” kata Budayawan Blora, Sumarno Triyono, kepada wartawan.
Lihat Juga: Meluruskan Sejarah Penemuan Minyak Bumi di Blora
Peran Pribumi yang Hilang dari Narasi
Narasi sejarah resmi kerap mencitrakan bahwa penemuan minyak bumi dilakukan oleh para insinyur dan pemodal Belanda. Namun dalam berbagai cerita lisan masyarakat Blora, banyak tokoh pribumi yang menjadi pelopor, mulai dari pelacak sumber minyak alami, penggali sumur manual, hingga pengelola tradisional.
Warga desa Ledok, misalnya, masih menyimpan cerita turun-temurun mengenai para leluhur mereka yang menemukan minyak dari rembesan tanah dan menggunakannya untuk obor dan pelumas alat pertanian. Beberapa bahkan menyebut adanya teknologi sederhana pengeboran manual jauh sebelum Belanda mengoperasikan peralatan berat.
“Orang tua saya cerita, nenek moyang kami sudah tahu lokasi-lokasi minyak di sini. Mereka menyebutnya ‘air panas hitam’, dan itu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,” ujar Sarwo Edy, tokoh masyarakat Ledok.
Warisan Sumur Tua dan Rakyat yang Bertahan
Hingga hari ini, ratusan sumur minyak tua di kawasan Blora masih aktif dikelola oleh masyarakat secara tradisional. Dalam skema kerja sama dengan BUMD maupun Pertamina, para penambang rakyat melakukan pengeboran manual dengan cara konvensional yang nyaris tak berubah sejak zaman penjajahan.
Ironisnya, meski telah berkontribusi lebih dari satu abad terhadap pasokan energi Indonesia, warga Blora, terutama di sekitar lokasi-lokasi sumur, masih hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Infrastruktur jalan buruk, akses pendidikan dan kesehatan minim, serta hasil bagi minyak yang sangat kecil, menjadi potret paradoks dari daerah kaya sumber daya alam namun miskin kesejahteraan.
Upaya Pelurusan Sejarah
Pemerintah Kabupaten Blora, para akademisi lokal, serta komunitas sejarah mulai menggencarkan upaya pelurusan sejarah. Seminar, dokumentasi sejarah lisan, dan penerbitan buku-buku lokal mulai digagas agar Blora diakui sebagai salah satu pionir penemuan minyak bumi di Nusantara.
“Meluruskan sejarah ini bukan hanya soal kebanggaan daerah, tapi juga soal keadilan historiografi. Anak-anak Blora berhak tahu bahwa daerahnya punya peran besar dalam industri strategis nasional,” ujar Dr. Siti Nurhayati, sejarawan Universitas Negeri Semarang yang meneliti sejarah energi di Jawa Tengah.
Penutup: Mewakili Masa Lalu dan Masa Depan Energi
Kini, dengan proyek besar seperti Blok Cepu dan Lapangan Banyu Urip yang menghasilkan ratusan ribu barel minyak per hari, daerah ini kembali menjadi sorotan nasional. Namun, tanpa pelurusan sejarah yang jujur, generasi Blora akan tetap menjadi penonton dalam sejarah yang mereka tulis sendiri sejak 140 tahun lalu.
Sudah waktunya Blora tidak sekadar dikenal sebagai “daerah penghasil jati”, tetapi juga dicatat dalam sejarah nasional sebagai wilayah pertama yang mengenalkan minyak bumi ke panggung industri Indonesia. Sebuah warisan yang tak boleh terus dibiarkan terlupakan.








