Cirebon – Seorang kepala desa di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi sorotan publik setelah video dirinya menyawer di sebuah klub malam viral di media sosial. Dalam video tersebut, sang kepala desa (kades) tampak berpakaian santai sambil melemparkan sejumlah uang kepada penari di atas panggung. Video yang berdurasi kurang dari satu menit itu sontak menuai kontroversi dan memicu perdebatan publik soal etika dan tanggung jawab pejabat publik.
Namun yang lebih mengejutkan, bukan hanya aksi nyawer-nya yang jadi perhatian, melainkan juga pengakuannya yang blak-blakan. Dalam sebuah pernyataan menanggapi viralnya video tersebut, sang kades dengan santai berkata: “Rumah saya banyak. Mau apa?”
Viral dan Dikecam
Video yang awalnya diunggah oleh akun Instagram lokal, menyebar luas dan dibagikan ribuan kali oleh warganet. Di dalam video itu, sang kades terlihat duduk dekat panggung, memegang ikat uang pecahan seratus ribu, lalu melemparkannya ke penari. Wajahnya terlihat jelas, sehingga dengan cepat identitasnya terungkap sebagai Kepala Desa berinisial H dari Kecamatan Arjawinangun.
Sejumlah warga dan aktivis lokal mengecam keras tindakan itu. Mereka menilai bahwa perbuatan H tidak mencerminkan perilaku seorang pejabat publik yang seharusnya menjaga integritas dan menjadi panutan masyarakat.
“Itu uang dari mana? Apakah uang pribadi atau dari dana desa? Kalau uang pribadi, tetap saja tidak pantas dilakukan seorang kepala desa yang digaji dari uang rakyat,” ujar Irfan Maulana, aktivis pemantau dana desa di Cirebon.
Jawaban Kades: “Itu Uang Saya, Rumah Saya Banyak!”
Dikonfirmasi oleh wartawan usai viralnya video tersebut, Kades H tidak menampik dirinya dalam video itu. Ia malah menanggapinya dengan enteng.
“Itu video saya, betul. Saya sedang liburan. Nyawer itu pakai uang saya sendiri. Rumah saya banyak, jadi jangan dikira saya tidak mampu,” ujarnya dengan nada datar.
Menurutnya, apa yang dilakukannya merupakan bagian dari hak pribadi sebagai warga negara. Ia menolak dianggap menyalahgunakan jabatan atau dana desa.
“Saya kerja keras. Tidak ada urusannya dengan jabatan. Saya juga pebisnis. Jangan salah,” tambahnya.
Pernyataan itu justru menambah bara di tengah kekecewaan publik. Banyak warganet merasa bahwa sang kades tidak menunjukkan sikap penyesalan, malah terkesan menyombongkan kekayaannya.
Reaksi Pemerintah Daerah
Inspektorat Kabupaten Cirebon menyatakan telah menindaklanjuti kasus ini. Kepala Inspektorat, Dedi Supriadi, menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap Kades H.
“Kami sedang mengumpulkan data dan keterangan dari berbagai pihak, termasuk dari yang bersangkutan. Meskipun tidak ada indikasi langsung penyalahgunaan dana desa, tetap harus ada etika pejabat publik yang dijaga,” katanya.
Sementara itu, Bupati Cirebon juga mengaku prihatin. Dalam pernyataan pers singkat, ia menyebut bahwa para kepala desa harus menjaga marwah jabatannya.
“Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena perilaku yang tidak pantas seperti ini,” tegasnya.
Sorotan Soal Gaya Hidup dan Transparansi Harta
Kasus ini juga memicu diskusi soal gaya hidup para pejabat desa yang belakangan makin mencolok. Apalagi, dalam pengakuannya, Kades H menyebut punya banyak rumah. Pernyataan itu menimbulkan pertanyaan: dari mana sumber kekayaannya?
Menurut data yang dihimpun dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), banyak kepala desa tidak diwajibkan melaporkan kekayaannya ke KPK karena jabatan mereka berada di bawah lingkup pemerintahan desa. Hal inilah yang membuat pengawasan terhadap harta kekayaan kades tidak seketat pejabat daerah atau pusat.
“Inilah pentingnya reformasi dalam tata kelola dana desa. Harus ada transparansi bukan hanya penggunaan dana, tetapi juga gaya hidup pejabatnya,” ujar pengamat kebijakan publik dari Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, Dr. Euis Marlina.
Lihat Juga: Pengakuan Kades di Cirebon Viral Nyawer di Klub Malam
Warga Minta Evaluasi dan Teguran Tegas
Di tingkat desa, sejumlah warga mulai bersuara. Mereka meminta agar camat dan bupati melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan H. Beberapa tokoh masyarakat menilai, apa yang dilakukan kades mereka telah mencoreng nama baik desa.
“Kami malu. Selama ini kami hanya tahu beliau baik, tapi kalau begini, kami jadi ragu. Apalagi katanya rumah banyak. Masyarakat di sini masih banyak yang susah,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.
Beberapa kelompok pemuda juga berencana menggelar aksi damai menuntut transparansi kekayaan dan pertanggungjawaban moral dari sang kepala desa.
Penutup
Kasus viral ini bukan semata-mata soal nyawer atau pesta malam. Lebih dari itu, ini adalah potret bagaimana integritas dan akuntabilitas pejabat publik, bahkan di tingkat desa, kini tengah diuji oleh sorotan masyarakat yang makin kritis.
Apakah akan ada sanksi administratif atau bahkan pemberhentian, masih menunggu hasil pemeriksaan inspektorat. Namun satu hal yang jelas: di era digital, satu video bisa menjadi bukti kuat, dan satu pernyataan seperti “Rumah saya banyak” bisa menjadi bumerang yang menghancurkan citra seorang pejabat.






