Jakarta – Sebuah klaim mengejutkan beredar luas di media sosial dan grup percakapan daring, menyebutkan bahwa Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai negara termiskin ke-2 di dunia setelah Zimbabwe. Klaim ini memicu kegemparan dan perdebatan panas di tengah masyarakat, memunculkan kekhawatiran soal kondisi ekonomi nasional dan arah kebijakan pemerintah. Namun, benarkah informasi tersebut berasal dari Bank Dunia? Ataukah ini hanya hoaks yang kembali dimainkan menjelang momen politik tertentu?
Artikel ini akan mengulas secara mendalam kebenaran klaim tersebut, membandingkannya dengan data resmi, serta menggambarkan kondisi ekonomi riil Indonesia di tengah tantangan global yang terus berubah.
Asal-Usul Klaim “Negara Termiskin ke-2”
Kabar bahwa Indonesia adalah negara termiskin kedua di dunia setelah Zimbabwe beredar pertama kali di beberapa kanal media sosial dan aplikasi perpesanan pada awal Juni 2025. Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa laporan Bank Dunia menyatakan Indonesia berada di posisi kedua dalam daftar negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia, hanya kalah dari Zimbabwe.
Namun, setelah ditelusuri, tidak ada satu pun laporan resmi dari Bank Dunia (World Bank) yang menyebut Indonesia dalam daftar negara termiskin dunia. Situs resmi Bank Dunia maupun laporan-laporan terbarunya menunjukkan posisi Indonesia justru sebagai negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle income country), bukan negara miskin ekstrem.
Kategori Bank Dunia: Indonesia Masuk Kelas Menengah, Bukan Termiskin
Bank Dunia mengelompokkan negara-negara di dunia berdasarkan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita menjadi empat kategori:
- Negara berpendapatan rendah (Low income)
- Negara berpendapatan menengah ke bawah (Lower-middle income)
- Negara berpendapatan menengah ke atas (Upper-middle income)
- Negara berpendapatan tinggi (High income)
Menurut data terakhir yang dirilis Bank Dunia, Indonesia masih masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah ke bawah, dengan GNI per kapita sekitar USD 4.580 per tahun (2024). Negara dalam kategori termiskin umumnya memiliki GNI per kapita di bawah USD 1.135—angka yang jauh lebih rendah dari Indonesia.
Beberapa negara yang secara konsisten masuk dalam daftar “termiskin” dunia versi Bank Dunia antara lain:
- Burundi
- Sudan Selatan
- Malawi
- Republik Afrika Tengah
- Madagaskar
Zimbabwe pun kerap berada dalam daftar tersebut, tetapi Indonesia tidak termasuk di dalamnya.
Lihat Juga: Bank Dunia: Indonesia Negara Termiskin ke-2 Setelah Zimbabwe
Kondisi Kemiskinan di Indonesia: Tantangan Memang Ada
Meski klaim “negara termiskin ke-2” tidak berdasar, bukan berarti Indonesia bebas dari persoalan kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024:
- Jumlah penduduk miskin di Indonesia tercatat sebesar 9,03% dari total populasi.
- Angka tersebut setara dengan sekitar 25 juta jiwa, mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi masih menjadi tantangan besar.
Tantangan lain yang memperparah kerentanan ekonomi masyarakat meliputi:
- Inflasi harga pangan pasca-pandemi dan konflik global.
- Ketimpangan akses terhadap pekerjaan dan pendidikan di daerah-daerah tertinggal.
- Dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan perikanan.
Respons Pemerintah Terhadap Hoaks
Menanggapi kabar bohong ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) langsung membantah dan mengklasifikasikan klaim tersebut sebagai disinformasi. Melalui situs resmi Turn Back Hoax, Kominfo menyebutkan bahwa tidak pernah ada laporan resmi Bank Dunia yang menyebut Indonesia sebagai negara termiskin ke-2.
Juru Bicara Kominfo juga mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi dari sumber resmi.
Analisis Ekonomi: Masih Banyak PR, Tapi Tidak Separah Itu
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa penyebaran hoaks semacam ini bisa merusak persepsi investor dan memperkeruh suasana ekonomi nasional.
“Indonesia memang menghadapi banyak tantangan, tapi menyebutnya sebagai negara termiskin kedua setelah Zimbabwe itu jelas tidak berdasar secara data. Justru yang perlu dilakukan adalah mendorong reformasi struktural dan memperbaiki distribusi kekayaan,” ujarnya.
Menurut Bhima, Indonesia perlu terus mendorong:
- Investasi di sektor produktif, seperti manufaktur dan digital.
- Program bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.
- Reformasi birokrasi untuk memperkuat iklim usaha.
Kesimpulan: Klaim Tak Berdasar, Tapi Perlu Waspada dan Evaluasi
Klaim bahwa Indonesia adalah negara termiskin ke-2 di dunia setelah Zimbabwe adalah hoaks yang tidak memiliki dasar data apa pun dari Bank Dunia. Faktanya, Indonesia masih tergolong negara berpendapatan menengah ke bawah dengan kemajuan ekonomi yang fluktuatif, tetapi jelas tidak dalam kondisi ekstrem seperti disebutkan.
Meski begitu, tantangan kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan akses ekonomi nyata terjadi dan tetap membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.








