BLORA – Kabupaten Blora, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kayu jati dan sentra pertanian di Jawa Tengah, kembali mencatatkan prestasi membanggakan di sektor perdagangan internasional. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Perdagangan Blora, nilai ekspor dari kabupaten ini mencapai 795 ribu dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan sekitar Rp13 miliar pada pertengahan tahun 2025.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, menandakan geliat ekonomi lokal yang semakin kuat dan keberhasilan strategi diversifikasi komoditas ekspor yang diterapkan pemerintah daerah. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya angka ekspornya, tetapi juga komoditas utama yang mendominasi, yang mungkin tak banyak disangka oleh publik.
Kayu Olahan Masih Primadona
Komoditas ekspor terbesar dari Blora masih didominasi oleh produk kayu olahan, terutama dari kayu jati dan sonokeling. Kabupaten Blora memang telah lama dikenal sebagai salah satu sentra hutan jati terbesar di Indonesia, dan hasil hutannya sangat diminati pasar luar negeri.
Produk-produk seperti furnitur, papan kayu lapis, hingga komponen interior rumah tangga seperti pintu dan jendela berbahan kayu jati, menjadi andalan ekspor ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan Korea Selatan.
Menurut Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Blora, Supriyono, sektor ini terus tumbuh karena ada peningkatan permintaan terhadap furnitur ramah lingkungan dan berbasis material alami.
“Furnitur dari Blora punya keunggulan desain dan kualitas. Pasar luar negeri, terutama Eropa dan Amerika, sangat menghargai produk handmade dan berbahan kayu solid,” ujarnya saat ditemui di kantor dinas.
Komoditas Mengejutkan: Kerajinan Tangan dan Produk UMKM
Yang cukup mengejutkan, pada semester pertama 2025, produk kerajinan tangan dan hasil industri rumah tangga justru mengalami lonjakan permintaan yang signifikan. Produk seperti tas anyaman, kerajinan batok kelapa, dan aksesori dari limbah kayu mencatat nilai ekspor tertinggi kedua setelah kayu olahan.
Pasar ekspor utama untuk produk ini berasal dari Australia, Jerman, dan Prancis. Faktor penentu kesuksesan adalah tren dunia akan produk etnik dan berkelanjutan (sustainable goods) yang memiliki nilai seni dan ramah lingkungan.
Salah satu pelaku UMKM dari Kecamatan Cepu, Larasati (35 tahun), mengatakan bahwa dirinya tak menyangka produk tas anyamannya bisa masuk ke pasar Jerman melalui marketplace dan kerja sama dengan eksportir lokal.
“Awalnya saya hanya produksi untuk pasar lokal. Tapi setelah ikut pelatihan ekspor dari dinas, kami diberi jalan untuk menembus pasar luar negeri. Sekarang pengiriman rutin dua kali sebulan,” ungkapnya.
Lihat Juga: Nilai Ekspor Blora Capai 795 Ribu Dolar AS, Komoditas Utamanya
Produk Pertanian Mulai Masuk Pasar Ekspor
Selain kayu dan kerajinan, hasil pertanian seperti ketela pohon (singkong), jagung, dan tembakau juga menyumbang nilai ekspor meski dalam skala lebih kecil. Produk-produk ini terutama diekspor ke negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, serta beberapa negara Timur Tengah.
Potensi sektor ini sangat besar, namun masih terkendala pada standardisasi mutu dan pengemasan yang sesuai dengan permintaan pasar global. Pemerintah kabupaten pun sedang mengupayakan pendampingan kepada petani dan koperasi tani untuk mempersiapkan komoditasnya ke pasar ekspor.
Strategi Pemerintah dan Tantangan ke Depan
Kepala Bappeda Blora, Drs. Hartono, menyatakan bahwa capaian ini adalah hasil dari sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dinas teknis, hingga pelaku usaha lokal.
“Kami terus mendorong Blora untuk tidak hanya sebagai lumbung pangan, tapi juga sebagai basis produksi ekspor. Fokus kami ke depan adalah meningkatkan kapasitas UMKM dan memperbaiki rantai logistik,” katanya.
Namun, Hartono mengakui bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan, belum meratanya akses internet untuk pelaku UMKM di desa, hingga minimnya fasilitas pergudangan ekspor yang modern.
Penutup: Blora Menatap Pasar Global
Dengan nilai ekspor yang sudah menembus hampir 800 ribu dolar AS dalam setengah tahun, Kabupaten Blora menunjukkan bahwa potensi daerah bisa berkembang pesat jika dikelola dengan strategi yang tepat. Kayu jati tetap menjadi ikon, namun kerajinan dan produk kreatif lokal mulai unjuk gigi di pasar internasional.
Jika tren ini terus didorong dan dibarengi dengan pembenahan infrastruktur serta dukungan kepada petani dan pelaku UMKM, bukan tidak mungkin Blora akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi ekspor di Jawa Tengah dalam beberapa tahun ke depan.








