Washington, D.C. — Mantan Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump kembali menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza bisa saja tercapai dalam minggu ini. Pernyataan mengejutkan itu ia sampaikan dalam wawancara eksklusif bersama jaringan berita konservatif, Newsmax, pada Senin malam waktu setempat (7/7/2025).
Pernyataan Trump ini muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin memburuk di Jalur Gaza, di mana korban sipil terus berjatuhan dan tekanan internasional terhadap Israel dan Hamas semakin memuncak. Namun, berbeda dari pejabat aktif di Gedung Putih, Trump justru tampil percaya diri dan menilai jalan menuju perdamaian “lebih terbuka dari yang diperkirakan banyak pihak.”
“Saya Bisa Selesaikan Ini dalam 48 Jam”
Dalam wawancara tersebut, Trump kembali mengklaim bahwa bila dirinya masih menjabat sebagai Presiden, konflik Gaza tidak akan berkepanjangan seperti sekarang. “Percayalah, bila saya berada di Oval Office hari ini, kita sudah melihat perdamaian dalam 48 jam,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa dirinya tetap menjalin komunikasi dengan beberapa pihak penting di Timur Tengah, termasuk “pemimpin dunia Arab dan tokoh-tokoh berpengaruh di Israel.”
Lebih jauh, Trump menilai bahwa ada sinyal positif yang berkembang dalam beberapa hari terakhir, meskipun tidak menjelaskan secara rinci siapa yang mengirimkan sinyal tersebut. “Saya dengar langsung bahwa ada kemungkinan gencatan senjata terjadi minggu ini. Kita akan lihat. Saya harap pemerintahan saat ini tidak menyia-nyiakan peluang ini,” ujarnya.
Gedung Putih dan Israel Belum Beri Tanggapan
Pernyataan mantan presiden kontroversial itu belum mendapat respons langsung dari pemerintahan Presiden Joe Biden. Namun, seorang pejabat senior di Dewan Keamanan Nasional yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa “pernyataan Trump tidak mewakili posisi resmi Pemerintah AS” dan memperingatkan agar publik tidak terpancing janji yang tidak didukung oleh proses diplomatik yang nyata.
Sementara itu, dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hingga saat ini belum merespons pernyataan Trump. Pemerintah Israel sendiri masih fokus dalam operasinya di Rafah, selatan Gaza, dan terus menyatakan bahwa “gencatan senjata hanya mungkin dilakukan bila sandera-sandera Israel dibebaskan tanpa syarat.”
Lihat Juga: Trump Sebut Gencatan Senjata di Gaza Bisa Tercapai Minggu Ini
Klik Disini: https://www.profitableratecpm.com/n1cuuiqsn?key=1b608576911b72cb79c5714edb383be2
Tanggapan Hamas dan Dunia Internasional
Di pihak lain, Juru Bicara Hamas, Osama Hamdan, menyambut baik kemungkinan gencatan senjata namun skeptis terhadap kredibilitas Trump. “Kami tidak menutup pintu terhadap proses politik, tetapi kami juga tidak akan tertipu oleh kata-kata dari mantan Presiden yang dulu secara terang-terangan mendukung pendudukan Israel,” ujarnya dalam konferensi pers di Beirut.
Dunia internasional terus menyoroti konflik Gaza, yang sejak Mei 2025 telah menewaskan lebih dari 15.000 warga sipil, menurut data dari organisasi kemanusiaan internasional. Seruan untuk gencatan senjata datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan negara-negara OKI yang menilai situasi saat ini sudah sangat mendesak.
Analisis: Trump dan Kepentingan Politik 2024
Pengamat politik luar negeri dari Universitas Georgetown, Prof. Alicia Morgan, menilai bahwa pernyataan Trump kemungkinan besar bermuatan politis, terutama menjelang Konvensi Nasional Partai Republik yang akan segera digelar. “Trump berusaha membangun citra sebagai pemimpin global yang mampu menyelesaikan konflik besar. Ini adalah bagian dari narasi kampanye 2024-nya,” ujar Morgan.
Namun ia juga menambahkan bahwa keterlibatan Trump, meskipun tidak resmi, tetap memiliki pengaruh terhadap dinamika diplomasi internasional. “Ada tokoh-tokoh Timur Tengah yang masih menghormatinya dan bersedia mendengarnya. Jadi, walau dia bukan presiden, suaranya tetap diperhitungkan.”
Harapan dan Realitas
Terlepas dari motif politik di balik pernyataan Trump, banyak pihak berharap bahwa terobosan diplomatik—baik yang datang dari Washington, Doha, maupun Kairo—dapat mengakhiri penderitaan warga Gaza dan menghentikan siklus kekerasan yang tak kunjung usai.
Namun seperti yang disampaikan oleh Direktur Human Rights Watch Timur Tengah, Sarah Leah Whitson, “Gencatan senjata bukan hanya soal waktu, tapi soal niat tulus dari semua pihak. Dan sampai kini, kita belum melihat itu secara penuh.”
Penutup
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan tercapainya gencatan senjata di Gaza minggu ini memang menggema luas, tetapi belum disertai bukti konkret di lapangan. Dunia kini menunggu: apakah ini sekadar retorika menjelang pemilu, atau awal dari babak baru perdamaian yang lama diidamkan?








