Gaza, Palestina – 4 Juli 2025Serangan udara militer Israel kembali menorehkan luka mendalam bagi rakyat Palestina dan komunitas internasional. Kali ini, sebuah jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Israel diduga kuat menembakkan peluru kendali langsung ke arah Rumah Sakit Indonesia yang berlokasi di wilayah Beit Lahia, Gaza Utara, pada Rabu malam waktu setempat (3/7). Serangan tersebut secara tragis menghantam bagian kamar direktur rumah sakit, yang diketahui sebagai dr. Ahmed Matar, menyebabkan kematian dan luka-luka pada staf medis lainnya.
Serangan brutal ini sontak memicu kecaman dari berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi medis dunia. RS Indonesia dikenal luas sebagai fasilitas kesehatan yang dikelola dengan bantuan donatur rakyat Indonesia melalui MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), dan telah beroperasi sebagai rumah sakit rujukan sejak 2016 untuk warga Gaza yang terluka akibat agresi militer Israel.
Kronologi Serangan
Menurut laporan saksi mata dan tim medis setempat, serangan terjadi sekitar pukul 22.30 waktu Gaza. Dua ledakan dahsyat terdengar menghantam sisi timur rumah sakit. Salah satu rudal dikabarkan menembus lantai atas bangunan yang selama ini digunakan sebagai ruang kerja dan tempat tinggal dr. Ahmed Matar, direktur utama rumah sakit.
“Ledakannya sangat besar. Kami semua berlarian. Asap memenuhi ruangan, dan kami menemukan dr. Matar tergeletak dengan luka parah. Ia tak sempat diselamatkan,” ungkap salah satu perawat, Sulaiman Abu Nasser, kepada media lokal.
Laporan awal menyebutkan sedikitnya tiga tenaga medis luka-luka dalam serangan tersebut. Sementara puluhan pasien sempat dipindahkan darurat ke ruang bawah tanah untuk menghindari serangan lanjutan.
Respons Internasional
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri langsung mengeluarkan pernyataan keras. “Indonesia mengecam keras serangan keji dan tidak berperikemanusiaan terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, khususnya Konvensi Jenewa,” ujar juru bicara Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal, dalam konferensi pers pagi ini di Jakarta.
MER-C, lembaga penggagas pembangunan rumah sakit tersebut, juga menyuarakan kemarahan dan duka mendalam atas gugurnya dr. Matar yang dikenal berdedikasi tinggi dalam melayani korban konflik di Gaza. “Ini adalah kejahatan perang. RS Indonesia adalah fasilitas sipil yang jelas berstatus netral,” tegas Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad.
Dari Jenewa, Palang Merah Internasional (ICRC) menyerukan penyelidikan independen atas serangan tersebut. “Menyerang rumah sakit merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apapun,” tulis ICRC di akun resmi mereka.
Lihat Juga: Keji! F-16 Israel Tembak Kamar Direktur RS Indonesia di Gaza
Motif dan Target: Tanda Tanya Besar
Sampai saat ini, militer Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait alasan dibalik serangan tersebut. Namun sejumlah analis menyebutkan bahwa rumah sakit kerap menjadi target karena dicurigai oleh Israel sebagai lokasi persembunyian milisi Hamas – sebuah tuduhan yang berkali-kali dibantah dan tidak pernah dibuktikan secara transparan.
“Ini adalah bagian dari strategi penghancuran sistematis fasilitas publik di Gaza. Serangan ke rumah sakit, terutama yang dikelola asing, adalah upaya intimidasi,” ujar Prof. Noura Erakat, pengamat hukum internasional dari Rutgers University, AS.
RS Indonesia: Simbol Solidaritas yang Dihancurkan
Rumah Sakit Indonesia di Gaza bukan sekadar fasilitas medis. Ia adalah simbol solidaritas rakyat Indonesia kepada Palestina. Dibangun dari donasi masyarakat dan tenaga relawan, rumah sakit ini berdiri sebagai saksi keteguhan hubungan antarkemanusiaan lintas negara.
“Selama ini, RS Indonesia melayani semua orang, tanpa memandang siapa mereka. Bahkan warga Yahudi asal Ethiopia yang terjebak dalam konflik pun pernah ditangani,” ujar Relawan MER-C Indonesia, dr. Joserizal Jurnalis, dalam wawancara terdahulu.
Kini, simbol itu runtuh di bawah ledakan rudal F-16. Dunia ditantang: akankah terus diam melihat kekejaman terang-terangan terhadap fasilitas medis dan relawan kemanusiaan?
Tuntutan untuk Aksi Nyata
Masyarakat sipil di berbagai negara mulai turun ke jalan. Di Jakarta, aksi solidaritas digelar di depan Kedutaan Besar AS dan PBB, menyerukan boikot terhadap Israel dan mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengadakan sidang darurat.
Koalisi LSM internasional juga menyerukan agar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyelidiki insiden ini sebagai crime against humanity. “Jika rumah sakit tidak lagi aman, dunia telah kehilangan akal sehatnya,” ujar Amnesty International dalam pernyataan resmi.
Kesimpulan
Serangan terhadap Rumah Sakit Indonesia di Gaza adalah titik nadir baru dalam konflik Israel-Palestina. Menyerang fasilitas medis—yang dilindungi penuh oleh hukum perang—bukan hanya tindakan keji, tetapi juga mencerminkan hilangnya batas moral dalam peperangan.
Dr. Ahmed Matar gugur sebagai martir kemanusiaan. Rumah Sakit Indonesia mungkin telah hancur sebagian, tetapi semangat solidaritas yang menghidupinya tak akan padam. Dunia menunggu: akankah keadilan ditegakkan, atau kekejaman ini kembali terkubur oleh diamnya komunitas internasional?






