Asia – Di tengah gelombang dukungan terhadap Palestina yang meluas di berbagai penjuru dunia, termasuk Asia, terdapat sejumlah negara yang justru mengambil sikap berbeda. Meskipun tidak terang-terangan, beberapa negara Asia diam-diam menjalin hubungan diplomatik, ekonomi, bahkan pertahanan dengan Israel. Yang menarik, salah satunya adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Artikel ini mengulas lima negara di Asia yang secara diam-diam mendukung Israel, lengkap dengan dinamika politik dan strategi di balik hubungan tersebut.
1. Azerbaijan – Aliansi Strategis dengan Kepentingan Militer
Azerbaijan, negara bekas Uni Soviet yang mayoritas penduduknya beragama Islam Syiah, menjadi salah satu mitra utama Israel di kawasan Kaukasus. Meski tidak menyuarakan dukungan politik secara terbuka, Baku dan Tel Aviv memiliki hubungan militer dan intelijen yang sangat erat.
Menurut laporan lembaga think tank internasional, lebih dari 60% senjata yang digunakan Azerbaijan dalam konflik Nagorno-Karabakh berasal dari Israel. Di sisi lain, Israel memperoleh minyak dari Azerbaijan dan menjadikan negara itu sebagai titik strategis untuk memantau Iran. Kedekatan ini menunjukkan bahwa geopolitik dan kepentingan pertahanan dapat melampaui solidaritas keagamaan.
2. India – Kepentingan Ekonomi dan Keamanan dalam Hubungan Bilateral
India, negara demokrasi terbesar di dunia, secara historis mendukung Palestina. Namun sejak awal 1990-an, terutama di bawah pemerintahan Narendra Modi, India menjalin hubungan erat dengan Israel. Dukungan ini lebih bersifat pragmatis, berdasarkan kepentingan keamanan, teknologi, dan pertanian.
India membeli berbagai sistem persenjataan dari Israel, seperti drone, radar, dan rudal pertahanan. Israel juga menjadi mitra penting dalam pengembangan pertanian canggih dan pengelolaan air di berbagai negara bagian di India. Meski publik India terbelah dalam isu Palestina, pemerintah tetap menjaga hubungan harmonis dengan Israel demi keuntungan strategis.
3. Singapura – Mitra Militer Sejak Lama
Singapura dikenal sebagai negara netral dalam konflik internasional, namun memiliki hubungan militer yang sangat dekat dengan Israel sejak kemerdekaannya. Di tahun 1965, saat Singapura memisahkan diri dari Malaysia dan merasa terisolasi secara militer, Israel adalah negara pertama yang memberikan pelatihan militer kepada Angkatan Bersenjata Singapura (SAF).
Hubungan ini terus berlanjut hingga kini, dengan kerja sama dalam pengadaan teknologi militer, intelijen, dan pertahanan siber. Pemerintah Singapura sangat berhati-hati agar hubungan ini tidak menciptakan ketegangan di dalam negeri atau kawasan Asia Tenggara yang mayoritas berpenduduk Muslim.
Lihat Juga: 5 Negara Asia Dukung Israel, Salah Satunya Mayoritas Muslim
4. Vietnam – Kerja Sama Ekonomi dan Teknologi
Vietnam dan Israel menjalin hubungan diplomatik sejak tahun 1993. Sejak saat itu, kerja sama antara keduanya berkembang dalam bidang teknologi, pertanian, pendidikan, hingga pertahanan.
Meski Vietnam tidak secara aktif mengekspresikan dukungan kepada Israel dalam isu Palestina, hubungan bilateral yang semakin erat menunjukkan adanya kedekatan politik dan ekonomi. Israel bahkan membantu Vietnam dalam program irigasi pintar dan pertanian presisi.
Vietnam juga menjadi pasar penting bagi ekspor teknologi Israel di Asia Tenggara. Kedua negara menghindari kontroversi dengan tetap menjaga hubungan di level pragmatis dan teknokratis.
5. Kazakhstan – Hubungan Senyap yang Didorong Kepentingan Ekonomi
Kazakhstan, negara Asia Tengah dengan mayoritas penduduk Muslim, telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 1992. Meski tidak tampil di panggung internasional sebagai pendukung utama Israel, Kazakhstan menjalin kerja sama dalam bidang energi, keamanan, dan pertanian.
Israel membantu Kazakhstan dalam pengembangan sektor energi dan pengelolaan sumber daya air. Di sisi lain, Kazakhstan menjadi salah satu negara mayoritas Muslim yang membuka pintu bagi investasi Israel, sekaligus menjadi mitra perdagangan penting di Asia Tengah.
Pemerintah Kazakhstan juga kerap memainkan peran sebagai penengah netral dalam konflik global, termasuk menyelenggarakan forum dialog antar-agama yang diikuti oleh pejabat Israel.
Penutup
Kelima negara di atas menunjukkan bahwa dalam dunia diplomasi, solidaritas agama atau ideologi tidak selalu menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Kepentingan nasional, keamanan, dan kemajuan teknologi kerap menjadi landasan utama dalam menjalin hubungan dengan negara seperti Israel.
Meski hubungan itu dilakukan secara diam-diam atau tidak dipublikasikan secara luas, kenyataan bahwa negara-negara Asia, termasuk yang mayoritas Muslim, tetap berhubungan erat dengan Israel menambah kompleksitas peta geopolitik global di tengah konflik Israel-Palestina.








