Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari Badan Generasi Nasional (BGN), sebuah lembaga baru yang digadang-gadang akan menjadi motor penggerak revolusi digital, data, dan etika di era pasca-pandemi. Dalam konferensi pers terbaru, Kepala BGN, Dr. Rinaldi Wahyudi, mengumumkan kebutuhan instansi tersebut akan 90.000 sarjana fresh graduate dari berbagai bidang untuk mengoperasikan program nasional bertajuk MBG: Merdeka Bekerja Generatif.
“Ini bukan sekadar perekrutan biasa. Ini adalah proyek nasional dengan dampak luar biasa bagi masa depan tenaga kerja muda Indonesia,” ujar Rinaldi dalam pidato pembukaan Forum Pembangunan Digital Nasional, Selasa (2/7) lalu.
Apa Itu MBG?
MBG (Merdeka Bekerja Generatif) merupakan inisiatif besar pemerintah yang digagas untuk menyesuaikan arah pembangunan nasional dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI), sistem kerja jarak jauh, dan ekonomi berbasis data. Program ini dirancang untuk memberdayakan lulusan baru dengan sistem kerja fleksibel, digital-first, namun tetap berbasis nilai-nilai etika dan kedaulatan data nasional.
“MBG akan mengubah paradigma kerja dari mengejar pekerjaan menjadi menciptakan nilai,” kata Rinaldi.
Program MBG akan diterapkan dalam berbagai sektor, termasuk:
- Data Governance dan Manajemen Etika AI
- Monitoring Digitalisasi Layanan Publik
- Edukasi Literasi Digital dan Kebangsaan
- Pemanfaatan Teknologi Generatif untuk UMKM
- Konsultan Kebijakan Publik Berbasis Data
90.000 Lulusan Dibutuhkan: Dari Mana Saja?
Rekrutmen besar-besaran ini menyasar sarjana lulusan 2023 dan 2024 dari berbagai bidang: teknologi informasi, komunikasi, hukum, filsafat, pendidikan, ekonomi, statistik, dan ilmu sosial-humaniora lainnya.
Menurut dokumen resmi BGN yang diterima redaksi, kebutuhan tenaga kerja dibagi ke dalam tiga kategori:
- Tenaga Teknokratik (30.000 orang) – berperan dalam membangun sistem digital, big data, keamanan siber, dan aplikasi AI.
- Tenaga Edukator (25.000 orang) – bertugas memberikan pelatihan, lokakarya, dan pendampingan masyarakat dan sekolah dalam memahami teknologi generatif.
- Tenaga Etika dan Kebijakan (35.000 orang) – bertugas menyusun kajian dampak sosial teknologi, membentuk kode etik digital, dan menjadi fasilitator etika publik.
Syarat dan Mekanisme Rekrutmen
Rekrutmen akan dilakukan secara bertahap mulai Agustus 2025 melalui platform digital nasional MBG.go.id, yang saat ini masih dalam tahap finalisasi.
Syarat utamanya antara lain:
- WNI berusia maksimal 27 tahun per Januari 2026
- Lulusan S1/D4 terakreditasi
- Mampu bekerja secara daring penuh waktu
- Memiliki minat pada isu teknologi, etika, dan kebijakan
- Bersedia mengikuti pelatihan intensif 3 bulan
BGN menyebutkan bahwa sistem seleksi akan menekankan pada kemampuan adaptasi digital, pemahaman etika, dan kerja kolaboratif, bukan sekadar nilai akademik.
Gaji dan Skema Kerja: Merdeka, tapi Profesional
Salah satu hal paling menarik dari program MBG adalah skema kerja yang fleksibel namun bergaji kompetitif. Fresh graduate yang lolos akan bekerja dari rumah atau hub digital terdekat, namun tetap dalam koordinasi sistem nasional berbasis platform AI.
Kisaran gaji awal yang ditawarkan:
- Teknokratik: Rp 8 – 12 juta
- Edukator: Rp 6 – 9 juta
- Etika dan Kebijakan: Rp 7 – 10 juta
Selain itu, mereka akan mendapatkan tunjangan pelatihan, kuota internet, serta peluang menjadi ASN digital jika kinerja dinilai baik setelah dua tahun.
Lihat Juga: Siap! BGN Butuh 90.000 Sarjana Fresh Graduate Jalankan MBG
Misi Besar: Ciptakan Generasi Generatif
BGN menyatakan bahwa perekrutan ini bukan hanya soal membuka lapangan kerja, melainkan membentuk Generasi Generatif Indonesia — yakni generasi muda yang mampu menciptakan, mengolah, dan menilai informasi serta teknologi dengan bijak dan beretika.
“Di masa depan, bukan yang paling pintar yang menang, tapi yang paling mampu memahami relasi antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Dr. Rinaldi tegas.
Program ini juga akan dikolaborasikan dengan sejumlah universitas, lembaga riset, hingga perusahaan teknologi dalam dan luar negeri. Beberapa nama besar seperti Telkom University, Universitas Gadjah Mada, Google Indonesia, dan Bhinneka AI dikabarkan telah menandatangani MoU untuk mendukung pelatihan dan mentorship peserta MBG.
Tanggapan Publik dan Mahasiswa
Di media sosial, kabar ini langsung jadi trending. Tagar #MBG2025 dan #KerjaGeneratif dipenuhi komentar mahasiswa yang antusias sekaligus penasaran.
“Kalau benar-benar transparan dan bisa kerja dari desa, aku daftar!” tulis akun X @mariabelajar.
Namun, tak sedikit juga yang skeptis. “Jangan-jangan ini kaya program magang tapi dibungkus keren,” tulis akun lain @dimasdata.
Menanggapi hal ini, BGN menjanjikan bahwa semua proses rekrutmen akan diawasi langsung oleh Ombudsman dan Komisi Etika Digital Nasional.
Penutup
Dengan kebutuhan 90.000 tenaga muda dan gaji yang menjanjikan, program MBG bisa menjadi titik balik bagi pengangguran sarjana di Indonesia—yang per Maret 2025 mencapai 980 ribu orang. Namun, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh transparansi rekrutmen, efektivitas pelatihan, serta kejelasan output kerja dari tiap peserta.
Satu hal pasti: era kerja generatif telah dimulai. Dan BGN ingin Indonesia memimpinnya, bukan sekadar mengikutinya.






