Jakarta, 2 Juli 2025 — Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin (BGN), secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Dalam pernyataan yang disampaikan saat konferensi pers di Gedung Kemenkes, Jakarta, Selasa (1/7), Budi mengaku dirinya sering menjadi sasaran kritik dan amarah publik akibat kebijakan kontroversial dari program Mandat Biaya Gotong Royong (MBG), sebuah skema pembiayaan kesehatan nasional yang menuai polemik sejak awal tahun.
“Kami memahami keresahan masyarakat. Dan saya pribadi meminta maaf jika banyak dari kebijakan ini belum sempurna dan malah menimbulkan beban. Tapi izinkan saya juga jujur, sering kali saya menjadi sasaran amarah, bahkan fitnah, yang sebetulnya berakar dari kesalahan dalam pelaksanaan MBG,” ujar Budi dengan nada suara yang tenang namun tegas.
Apa Itu MBG dan Mengapa Jadi Polemik?
MBG atau Mandat Biaya Gotong Royong adalah skema pembiayaan kesehatan baru yang diusulkan pemerintah sebagai pelengkap BPJS Kesehatan. Diperkenalkan awal 2025, MBG dirancang untuk mendistribusikan beban biaya pengobatan kronis secara kolektif antara masyarakat, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah. Namun, dalam praktiknya, banyak masyarakat mengeluh lantaran iuran tambahan terasa membebani, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih belum pulih pasca-pandemi dan inflasi global.
Tak hanya itu, sejumlah rumah sakit swasta menolak menerima pasien MBG karena keterlambatan pembayaran klaim dari pemerintah. Sementara di sisi lain, warga merasa ditelantarkan karena tidak memiliki cukup dana untuk layanan non-BPJS yang kini ditanggung MBG.
“Yang dulunya cukup dengan BPJS, sekarang harus bayar tambahan lagi. Kalau nggak ikut MBG, ada beberapa layanan yang katanya nggak bisa diakses,” kata Wahyuni (43), warga Bekasi, yang harus membawa anaknya berobat ke rumah sakit swasta karena puskesmas setempat penuh.
Budi Gunadi: Dari Arsitek Sistem hingga Kambing Hitam?
Sebagai Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin sempat dipuji karena digitalisasi sistem kesehatan dan penanganan pandemi COVID-19 yang relatif stabil. Namun sejak MBG diluncurkan, ia justru menjadi figur yang diserang berbagai kelompok masyarakat dan media.
“Pak Budi itu orang teknis, bukan politisi. Tapi sekarang beliau harus memikul amarah publik yang bahkan bukan murni berasal dari Kemenkes, karena MBG itu inisiatif lintas kementerian dan juga didorong oleh Tim Ekonomi,” ujar seorang pejabat Kemenkes yang enggan disebutkan namanya.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Prof. Ade Wahyudi, menyatakan bahwa ketidakjelasan komunikasi lintas instansi menjadi akar masalah. “Menkes terkesan menjadi wajah dari kebijakan ini, padahal banyak keputusan final ditentukan di tingkat lintas kementerian. Sayangnya, publik tidak melihat siapa yang merancang, hanya siapa yang mengumumkan.”
Lihat Juga: Menkes Minta Maaf, BGN Sering Jadi Sasaran Gara-gara MBG
Dampak Politik dan Sosial
Kritik terhadap MBG semakin kencang setelah muncul data bahwa lebih dari 40% rumah sakit di wilayah luar Jawa menolak skema tersebut karena ketidakpastian administrasi dan anggaran. Beberapa LSM menyebut MBG sebagai “jalan tengah yang gagal”, karena tidak memperkuat sistem BPJS, tetapi juga tidak mampu menjadi solusi alternatif yang solid.
Akibatnya, tekanan politik mulai bermunculan. Beberapa anggota DPR dari Komisi IX bahkan meminta evaluasi total kebijakan MBG dan menyarankan agar Menkes mundur jika tidak bisa memastikan keadilan dalam pelayanan kesehatan.
Namun, dalam pernyataan terbarunya, Budi menegaskan bahwa dirinya tidak akan lari dari tanggung jawab. “Saya tidak akan mundur hanya karena tekanan. Tapi saya akan perbaiki, saya akan duduk bersama semua pihak untuk merombak sistem ini jika memang itu yang dibutuhkan rakyat,” tegasnya.
Langkah Perbaikan dan Komitmen Kemenkes
Sebagai tindak lanjut dari permintaan maaf tersebut, Kemenkes mengumumkan pembentukan tim evaluasi independen untuk menilai pelaksanaan MBG di lapangan. Selain itu, ada rencana untuk membuka forum publik secara daring agar warga bisa menyampaikan langsung keluhan dan usulan kepada tim kebijakan.
“Pak Menteri sudah meminta kami semua mendengarkan suara rakyat. Mulai minggu depan, kami akan buka kanal khusus untuk pengaduan dan saran dari warga. Ini bentuk komitmen kami untuk memperbaiki MBG,” ujar dr. Riani Puspita, juru bicara Kemenkes.
Sementara itu, sejumlah organisasi profesi kesehatan menyambut baik sikap terbuka Menkes. Namun mereka menekankan bahwa evaluasi tidak cukup hanya pada aspek administrasi, tetapi juga substansi dan keberpihakan anggaran terhadap pasien miskin.
Penutup
Permintaan maaf terbuka dari Menkes Budi Gunadi Sadikin adalah langkah yang tidak lazim dalam kultur birokrasi Indonesia. Namun hal ini menjadi refleksi bahwa tekanan dan ekspektasi terhadap pemimpin di sektor kesehatan sangat tinggi, terlebih dalam konteks kebijakan publik yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Apakah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap MBG dan Menkes? Waktu dan ketegasan dalam perbaikan sistem akan menjadi penentunya.








