BLORA – Pemerintah Kabupaten Blora resmi mengaktifkan empat pasar tradisional untuk beroperasi di malam hari. Langkah ini diambil sebagai bagian dari program revitalisasi ekonomi rakyat dan pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL), sekaligus untuk menghidupkan sektor pariwisata kuliner malam di kota kecil yang dikenal sebagai penghasil jati ini.
Empat pasar yang dihidupkan untuk kegiatan malam hari itu adalah Pasar Rakyat Blora, Pasar Rakyat Cepu, Pasar Rakyat Ngawen, dan Pasar Rakyat Kunduran. Aktivasi dimulai secara bertahap sejak awal Juni 2025 dan direncanakan akan berlangsung penuh setiap hari, dengan waktu operasional malam pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB.
Pasar Tak Lagi Mati Saat Malam
Pasar-pasar tradisional di Blora selama ini cenderung sepi selepas pukul 12 siang. Kini, setelah dilakukan penataan dan sosialisasi kepada pedagang serta masyarakat sekitar, suasana berubah drastis. Di malam hari, deretan gerobak makanan, tenda-tenda kuliner, dan panggung hiburan kecil mulai mengisi halaman dan bagian luar pasar.
“Kami ingin mengoptimalkan fungsi pasar rakyat. Tidak hanya pagi, tetapi juga malam hari. Ini bukan sekadar ekonomi, tetapi juga ruang sosial baru bagi warga,” ujar Bupati Blora Arief Rohman, dalam pernyataan resminya, Jumat (27/6/2025).
Menurutnya, pasar malam ini bukan dalam konteks hiburan musiman, melainkan pemberdayaan sektor informal secara permanen, terutama bagi PKL dan pelaku UMKM kuliner yang selama ini sulit mendapat ruang usaha tetap.
Disulap Jadi Sentra Kuliner dan Keramaian Rakyat
Di Pasar Blora Kota misalnya, pengunjung kini bisa menikmati berbagai sajian khas seperti sate ayam Blora, lontong tahu, wedang cemue, nasi goreng jowo, hingga aneka camilan kekinian. Deretan kursi plastik, live music akustik dari komunitas lokal, serta area bermain anak turut menambah semarak.
Salah satu pedagang, Bu Yanti, mengaku omzetnya meningkat dua kali lipat sejak mulai berjualan malam. “Dulu saya cuma jualan pagi-pagi sampai jam 10. Sekarang bisa buka lagi malam hari. Pembelinya justru banyak pas malam, apalagi malam minggu,” katanya.
Tak hanya pedagang lama, pasar malam ini juga menyedot minat generasi muda Blora yang membuka usaha kuliner kekinian. Di Pasar Cepu, terdapat tenda-tenda dengan konsep semi-kafe, menyuguhkan kopi lokal dan makanan ringan sambil diiringi musik indie.
“Ini suasananya asyik banget. Kayak street food festival tapi lokal. Kita bisa kumpul bareng teman-teman sambil jajan murah,” kata Andika, mahasiswa asal Blora yang sedang berlibur.
Lihat Juga: 4 Pasar Blora Diaktifkan Malam Hari, Jadi Sentra Baru Kuliner
Sinergi OPD, Camat, dan Komunitas
Program ini merupakan hasil sinergi antara Dinas Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, camat setempat, serta komunitas pemuda dan PKL. Pemerintah juga memberikan pendampingan berupa pelatihan pengelolaan keuangan, kebersihan kuliner, serta desain stan yang menarik.
Kepala Dinas Perdagangan Blora, Sutrisno, S.Sos, menekankan bahwa pihaknya telah mengatur zonasi agar tidak terjadi konflik antara pedagang pagi dan malam. “Zona malam ditempatkan di bagian pelataran, halaman, atau lahan parkir yang memang bisa dimaksimalkan. Kami hindari tumpang tindih,” jelasnya.
Pemerintah juga mengantisipasi soal kebersihan dan keamanan. Setiap malam disediakan petugas kebersihan tambahan serta pengamanan dari Satpol PP dan Karang Taruna lokal.
Potensi Wisata Baru dan Penggerak Ekonomi Daerah
Langkah ini disebut sejumlah pengamat sebagai strategi tepat untuk menumbuhkan ekonomi lokal berbasis mikro. Aktivitas pasar malam yang hidup secara teratur dinilai akan menjadi magnet baru pariwisata domestik.
Menurut Dr. Diah Lestari, dosen ekonomi pembangunan dari Universitas Blora, pasar malam bisa menjadi tulang punggung ekonomi kreatif rakyat jika dikembangkan secara konsisten. “Blora sudah punya kekhasan kuliner. Dengan memfasilitasi ruang-ruang kreatif malam seperti ini, perputaran ekonomi akan lebih merata dan dinamis,” katanya.
Pemkab Blora juga sedang menjajaki kolaborasi dengan agen perjalanan dan komunitas pariwisata digital untuk memasukkan pasar malam Blora dalam rute city tour.
Harapan PKL: Terus Berlanjut dan Terintegrasi
Sejumlah pedagang berharap program ini tidak bersifat musiman atau tergantung anggaran tahun berjalan. Mereka menginginkan ada regulasi khusus yang menjamin keberlanjutan pasar malam, termasuk soal penyediaan listrik, air bersih, dan promosi.
“Jangan cuma tahun ini saja. Kalau bisa jadi agenda tetap. Kami juga butuh promosi, supaya yang datang bukan cuma orang lokal,” kata Pak Eko, pedagang minuman tradisional.
Penutup
Dengan aktivasi empat pasar tradisional sebagai sentra malam hari, Blora membuka babak baru dalam dinamika kotanya. Dari pasar pagi yang penuh transaksi kebutuhan pokok, kini menjadi ruang hidup baru bagi PKL, pemuda, pelancong, hingga keluarga yang ingin menikmati malam dengan suasana khas lokal. Langkah ini bukan hanya revitalisasi ekonomi, tapi juga bentuk rekayasa sosial yang menghidupkan denyut kota hingga larut malam.








