Jakarta, 30 Juni 2025 – Komite Digital Indonesia (Komdigi) mengumumkan rencana ambisius pemerintah untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) buatan dalam negeri. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya kemandirian teknologi nasional yang selama ini masih terlalu bergantung pada produk luar negeri. Komdigi menyebut, Indonesia belajar dari langkah-langkah berani negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, hingga Vietnam yang telah mulai membangun infrastruktur dan sistem AI mereka sendiri.
Ketua Komdigi, Ir. Santoso Wibowo, menyatakan bahwa momentum global saat ini mendesak negara-negara berkembang untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga sebagai pemain yang aktif mengembangkan dan menyesuaikan teknologi dengan karakteristik dan nilai-nilai lokal.
“Sudah saatnya kita punya AI buatan Indonesia. Bukan hanya dari segi bahasa, tapi juga dari etika, data, dan kepentingan nasional. Negara-negara tetangga sudah memulai, dan kita tidak boleh tertinggal,” ujar Santoso dalam konferensi pers di Jakarta, Senin pagi.
Berkaca pada Negara Tetangga
Langkah Indonesia untuk membuat AI sendiri bukan tanpa referensi. Singapura, misalnya, telah meluncurkan proyek National AI Strategy 2.0 yang menekankan pengembangan AI dalam pelayanan publik, kesehatan, dan sektor keuangan. Negara ini bahkan memiliki pusat pelatihan model bahasa lokal berbasis data Singlish dan Mandarin yang digunakan sehari-hari oleh penduduknya.
Malaysia tak mau kalah. Mereka menggandeng universitas-universitas lokal untuk mengembangkan model bahasa Melayu berbasis kecerdasan buatan guna diterapkan dalam layanan pemerintahan dan edukasi digital. Bahkan Vietnam tengah mengembangkan AI berbahasa Vietnam yang ditanamkan pada platform edukasi daring serta aplikasi e-government.
“Kalau mereka bisa membangun dari nol, dengan skala yang lebih kecil dari kita, tidak ada alasan kita tidak mampu. Kita punya SDM, kita punya data, dan kita punya pasar besar,” tegas Santoso.
Fokus pada Bahasa, Data Lokal, dan Etika
AI buatan Indonesia rencananya akan dikembangkan untuk mengenali bahasa Indonesia secara lebih kontekstual dan inklusif, termasuk dialek daerah serta konteks sosial-budaya. Komdigi menyebut, AI luar negeri sering kali gagal memahami konteks lokal, baik dalam percakapan maupun pengambilan keputusan berbasis data.
Menurut data Komdigi, lebih dari 90 persen platform AI generatif yang digunakan di Indonesia saat ini berasal dari luar negeri dan dilatih dengan data yang sebagian besar tidak merepresentasikan kondisi masyarakat Indonesia. Ini dikhawatirkan menimbulkan bias serta berisiko terhadap kedaulatan data.
“Bayangkan AI yang tidak mengerti peribahasa Indonesia, tidak paham adat lokal, atau menanggapi ujaran dengan standar luar. Itu rawan kesalahpahaman,” jelas Prof. Nurul Huda, pakar etika AI dari Universitas Indonesia, yang turut hadir dalam diskusi publik Komdigi.
Lihat Juga: Komdigi Sebut Indonesia Buat AI Sendiri, Berkaca Negara Sebelah
Tantangan: Infrastruktur dan Investasi
Meski rencana ini mendapat apresiasi, Komdigi mengakui bahwa tantangan yang dihadapi sangat besar, terutama dari sisi infrastruktur dan pendanaan. Untuk melatih model AI lokal berskala besar, dibutuhkan pusat data berkapasitas tinggi, tenaga ahli di bidang machine learning, serta kebijakan yang pro-inovasi.
Pemerintah disebut tengah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pengembangan AI Nasional yang mencakup pembentukan Indonesia AI Hub, pusat pengembangan dan pelatihan AI yang akan melibatkan universitas, startup, dan industri strategis nasional.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan memperluas proyek Digital Talent Scholarship dengan fokus pelatihan AI dan data sains.
“Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Kita butuh ekosistem—dari perguruan tinggi, pelaku industri, hingga komunitas open-source. Ini perjuangan panjang,” kata Santoso.
Menyongsong Masa Depan Digital Indonesia
Rencana Indonesia membuat AI sendiri menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mencapai kedaulatan digital. Tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing global di tengah revolusi industri 4.0 dan 5.0.
Komdigi optimis bahwa dengan dukungan lintas sektor, Indonesia mampu menghadirkan teknologi AI yang tidak hanya canggih, tetapi juga berakar pada nilai-nilai Pancasila dan keberagaman bangsa.
“AI Indonesia bukan sekadar tiruan dari luar. Ia akan mencerminkan siapa kita sebagai bangsa: beragam, gotong royong, dan beretika,” tutup Santoso.








