Tel Aviv — Pemerintah Israel dikabarkan mulai melunak terkait perang berkepanjangan di Jalur Gaza. Sumber diplomatik menyebutkan, perubahan sikap itu didorong tekanan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, yang kembali muncul sebagai aktor kuat dalam diplomasi Timur Tengah. Trump secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perdamaian dan bahkan mengancam akan menarik dukungan politik dan lobi terhadap Israel jika operasi militer tidak segera dihentikan.
Sinyal untuk menerima gencatan senjata mulai terlihat dalam pernyataan sejumlah petinggi kabinet Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya dikenal keras kepala dalam menolak jeda konflik. Hal ini menandai babak baru dalam upaya menyudahi perang yang telah menewaskan lebih dari 37.000 warga Palestina dan lebih dari 1.500 warga Israel sejak Oktober 2023.
Tekanan dari Trump: “Saatnya Damai”
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News pekan ini, Trump menegaskan bahwa perdamaian adalah satu-satunya jalan yang masuk akal bagi Israel saat ini. Ia bahkan menyebut Netanyahu “tidak akan mendapat simpati publik Amerika” jika terus memaksakan operasi militer tanpa ujung.
“Saya cinta Israel, tapi sekarang saatnya mereka menunjukkan bahwa mereka juga cinta perdamaian. Dunia lelah. Orang Amerika lelah. Jika saya kembali ke Gedung Putih, akan ada perubahan besar dalam cara kita mendukung siapa pun di Timur Tengah,” kata Trump.
Trump yang kini maju kembali dalam Pilpres AS 2024 juga disebut-sebut berencana mengundang perwakilan Israel dan Hamas untuk bertemu secara tertutup di salah satu resort pribadinya di Florida, Mar-a-Lago, sebagai bagian dari “inisiatif damai alternatif.”
Netanyahu Mulai Pertimbangkan Gencatan Senjata
Meskipun belum ada pernyataan eksplisit, beberapa anggota kabinet keamanan Israel telah mengisyaratkan bahwa mereka tengah meninjau “pilihan strategis non-militer.” Salah satunya adalah Menteri Pertahanan Yoav Gallant, yang dalam sebuah pertemuan tertutup di Knesset mengatakan bahwa Israel tidak bisa bertempur “selamanya tanpa konsekuensi diplomatik dan ekonomi.”
Laporan dari media Haaretz juga menyebutkan bahwa tekanan dari diaspora Yahudi di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin kuat. Banyak investor dan perusahaan teknologi Israel yang mulai khawatir akan boikot dan penurunan kepercayaan global.
Lihat Juga: Ditekan Trump! Israel Ingin Gencatan Senjata di Gaza
Hamas Menyambut dengan Hati-hati
Di sisi lain, Hamas menyambut positif tekanan terhadap Israel, namun tetap waspada. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa pihaknya bersedia mempertimbangkan kesepakatan gencatan senjata “asalkan mencakup jaminan internasional dan pengakuan atas hak rakyat Palestina.”
“Kami tidak menolak perdamaian, tetapi gencatan senjata harus adil, bukan jebakan. Kami tidak akan mengorbankan darah syuhada kami untuk gencatan senjata sepihak,” ujar Qassem dalam konferensi pers di Rafah.
Peran PBB dan Negara Regional
Sekjen PBB António Guterres dalam pernyataan resminya hari Minggu menyebut adanya “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan gencatan senjata yang difasilitasi Mesir, Qatar, dan Turki. Ia juga mengonfirmasi bahwa tekanan dari tokoh-tokoh politik global, termasuk Trump, memang mulai memberikan dampak nyata.
Sementara itu, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi kembali menyerukan pertemuan darurat Liga Arab, mendesak agar Israel dan Hamas menghentikan permusuhan dan membuka jalan bagi solusi dua negara.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Di tengah sinyal perdamaian, kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa lebih dari 80 persen wilayah Gaza kini tidak layak huni, dengan krisis air bersih, pangan, dan obat-obatan yang terus memburuk.
“Kami sudah tidak bicara soal pembangunan. Kami bicara soal bertahan hidup,” ujar Philippe Lazzarini, kepala UNRWA, dalam laporan resminya.
Kesimpulan: Akankah Trump Jadi Penentu Damai?
Tekanan Donald Trump mungkin menjadi momen yang memecah kebuntuan. Meski kerap dikritik, Trump punya daya tawar besar di kalangan elite Israel dan di antara lobi pro-Israel di Amerika. Jika berhasil menengahi kesepakatan gencatan senjata, Trump bisa mengklaim kemenangan diplomatik menjelang Pilpres 2024, sekaligus membuka jalan baru bagi perdamaian Timur Tengah.
Namun, pertanyaan utama masih menggantung: Apakah Netanyahu sungguh siap mengakhiri perang, atau ini hanya manuver politik di tengah tekanan global?
[Artikel ini akan terus diperbarui mengikuti perkembangan terbaru di Gaza dan Tel Aviv.]








