JAKARTA – Kasus hukum yang melibatkan selebritas kembali menyedot perhatian publik. Kali ini, nama Nikita MZ, seorang influencer sekaligus presenter acara hiburan ternama, menjadi sorotan setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan dakwaan resmi dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (30/6/2025). Dalam dakwaan tersebut, Jaksa mengungkap dugaan pemerasan yang dilakukan Nikita terhadap pengusaha muda dan figur publik, Reza Gladys.
Kronologi Dugaan Pemerasan
Dalam surat dakwaan yang dibacakan JPU, disebutkan bahwa kasus bermula dari komunikasi intens antara Nikita dan Reza pada awal Januari 2025. Keduanya terhubung melalui perkenalan di salah satu acara privat di Bali. Hubungan pertemanan itu kemudian berkembang ke arah pribadi, hingga akhirnya berujung pada konflik.
Menurut Jaksa, Nikita diduga merekam percakapan dan menyimpan sejumlah dokumen serta foto yang bersifat pribadi milik Reza. Diduga, materi tersebut dijadikan alat untuk menekan Reza agar memberikan uang tunai dan sejumlah aset dengan ancaman akan menyebarkan konten tersebut ke publik dan media.
“Terdakwa, dengan sengaja dan melawan hukum, meminta sejumlah uang sebesar Rp1,5 miliar kepada korban Reza Gladys dengan mengancam akan menyebarluaskan rekaman pribadi dan dokumen rahasia yang diperoleh selama hubungan mereka berlangsung,” ujar Jaksa R. Siregar dalam sidang.
Permintaan Uang dan Transfer Mencurigakan
Dalam berkas dakwaan, Jaksa menyertakan bukti berupa rekaman digital komunikasi antara keduanya. Ada pula bukti transfer dana ke rekening atas nama pihak ketiga yang diduga masih memiliki keterkaitan dengan Nikita MZ. Total dana yang berpindah tangan mencapai lebih dari Rp950 juta dalam kurun waktu dua bulan.
Jaksa juga mengungkap bahwa selain uang, terdakwa meminta agar korban mentransfer sebuah unit mobil mewah jenis SUV yang belakangan diketahui telah berpindah kepemilikan ke seseorang yang merupakan staf pribadi Nikita.
“Korban merasa tertekan, takut reputasi dan kehidupan pribadinya hancur, sehingga memilih memenuhi permintaan terdakwa secara bertahap,” terang JPU dalam persidangan.
Lihat Juga: Dakwaan Jaksa Dugaan Pemerasan Nikita Mz Kepada Reza Gl
Pihak Terdakwa Membantah Dakwaan
Kuasa hukum Nikita MZ, Andhika Prasetya, SH, menyampaikan bantahan keras atas dakwaan jaksa. Dalam konferensi pers setelah sidang, Andhika menyebut bahwa semua transaksi yang terjadi merupakan kesepakatan suka sama suka antara dua orang dewasa yang menjalin hubungan pribadi.
“Tidak ada unsur pemerasan. Klien kami dan saudara Reza Gladys menjalin relasi yang saling menguntungkan. Segala bentuk hadiah atau transfer dana dilakukan tanpa tekanan,” kata Andhika.
Ia juga menuding bahwa laporan Reza ke pihak berwajib baru dilakukan setelah hubungan keduanya memburuk dan Nikita memutuskan untuk mengakhiri komunikasi.
Reaksi Reza Gladys: “Ini Soal Marwah dan Keamanan Privasi”
Di sisi lain, Reza Gladys yang hadir sebagai saksi dalam persidangan menegaskan bahwa kasus ini bukan semata tentang uang. Ia menyebut perbuatannya melapor ke polisi adalah bentuk perlawanan terhadap praktik intimidasi dan pelanggaran privasi.
“Privasi saya dipermainkan. Materi pribadi saya dijadikan alat tawar. Ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang bagaimana seseorang bisa diperas hanya karena dia punya nama dan reputasi,” ujar Reza kepada wartawan usai sidang.
Dakwaan dan Ancaman Hukuman
Jaksa menjerat Nikita MZ dengan Pasal 368 ayat (1) KUHP tentang pemerasan, dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Selain itu, ada potensi tambahan pasal terkait pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) jika terbukti rekaman atau dokumen pribadi itu sempat didistribusikan.
Sidang lanjutan akan digelar pada Senin depan (7 Juli 2025), dengan agenda pemeriksaan saksi dari pihak pelapor serta pemanggilan ahli dari bidang digital forensik.
Publik dan Media: Antara Simpati dan Sensasi
Kasus ini mengundang perhatian luas di media sosial. Tagar #KeadilanUntukReza dan #NikitaMZ trending di X (dulu Twitter) dengan ribuan pengguna menyatakan pendapatnya. Ada yang mendukung keberanian Reza mengungkap dugaan pemerasan, ada pula yang menilai kasus ini sebagai “drama pribadi” yang seharusnya diselesaikan di luar pengadilan.
Namun sejumlah pengamat hukum menilai kasus ini penting sebagai preseden untuk menegaskan batas antara relasi pribadi dan tindakan melawan hukum, terutama di era digital yang penuh risiko penyalahgunaan data pribadi.






