Islamabad, Pakistan – Nama Dr. Abdul Qadeer Khan (AQ Khan) akan selalu dikenang sebagai “Bapak Bom Nuklir Pakistan” dan simbol kebanggaan nasional umat Islam di dunia. Di balik keberhasilannya menciptakan senjata nuklir pertama di dunia Islam, terdapat kisah dramatis penuh intrik, konspirasi, dan operasi intelijen kelas dunia. Salah satunya datang dari dinas rahasia Israel, Mossad, yang dikabarkan beberapa kali mencoba menggagalkan dan bahkan menghabisi nyawa ilmuwan jenius tersebut. Namun Mossad gagal—dan kegagalan itu berdampak besar terhadap geopolitik global.
AQ Khan: Ilmuwan yang Menantang Dunia
Lahir di Bhopal, India, pada 1936, dan bermigrasi ke Pakistan setelah Partisi India, AQ Khan tumbuh dengan semangat nasionalisme tinggi. Setelah menempuh pendidikan metalurgi di Eropa dan bekerja di sebuah fasilitas nuklir di Belanda, Khan membelot dan kembali ke Pakistan pada 1976 membawa pengetahuan vital soal pengayaan uranium. Ia yakin, setelah kekalahan Pakistan dalam Perang India-Pakistan 1971, negaranya harus memiliki kekuatan nuklir agar tidak diinjak-injak.
Pakistan, saat itu, negara berkembang dengan ekonomi pas-pasan, menjadikan proyek bom nuklir sebagai prioritas. Bekerja di bawah radar dunia internasional, Khan membangun jaringan rahasia pengadaan komponen nuklir dan membentuk laboratorium di Kahuta.
Kegelisahan Dunia Barat dan Israel
Saat kabar mengenai kemajuan nuklir Pakistan menyebar, Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel, mulai resah. Apalagi Pakistan adalah negara Muslim dengan sejarah hubungan rumit dengan negara-negara non-Muslim, serta kedekatan dengan dunia Arab.
Israel, satu-satunya negara Timur Tengah yang telah memiliki bom nuklir secara de facto, menganggap bom nuklir Pakistan sebagai ancaman eksistensial. Sebuah Pakistan nuklir bisa berarti penyokong moral dan militer bagi dunia Islam, serta bisa memicu perlombaan senjata di Timur Tengah. Maka Mossad bergerak.
Lihat Juga: Gagal Habisi AQ Khan, Pakistan Negara Islam Pemilik Bom Nuklir
Operasi Rahasia Mossad yang Gagal
Beberapa laporan intelijen yang bocor menyebutkan bahwa Mossad, sejak akhir 1970-an hingga pertengahan 1980-an, melancarkan berbagai upaya sabotase terhadap program nuklir Pakistan.
- Upaya Pembunuhan AQ Khan di Eropa
Salah satu rencana paling ambisius disebut berlangsung di Belgia atau Belanda, tempat AQ Khan sempat tinggal. Mossad konon mencoba membujuk kaki tangan untuk meracun atau menyabot kendaraan Khan. Namun pengawasan ketat dari intelijen Pakistan dan keberuntungan membuat rencana ini gagal. - Penyusupan dan Sabotase Teknis
Mossad juga mencoba menyusup ke jaringan pasokan logistik proyek nuklir Khan. Mereka mencoba menggagalkan pengiriman sentrifugal, alat vital dalam pengayaan uranium. Namun Khan memiliki jaringan luas yang sulit ditembus. Bahkan ketika beberapa perusahaan Eropa mulai ditekan untuk memutus kerja sama, Khan dan timnya berhasil mengganti saluran pasokan dengan jalur alternatif. - Pembunuhan Ilmuwan-Pendukung
Beberapa ilmuwan yang membantu AQ Khan dilaporkan menjadi sasaran. Ada dugaan beberapa kecelakaan fatal atau insiden misterius yang melibatkan ilmuwan Pakistan di luar negeri berkaitan dengan operasi rahasia. Tapi semua itu tak menghentikan proyek.
Mossad bukan satu-satunya aktor. CIA dan MI6 juga dilaporkan berkoordinasi melakukan pengintaian dan infiltrasi. Namun Khan terbukti terlalu pintar dan terlalu dilindungi oleh negara.
Uji Coba Nuklir 1998: Titik Balik Dunia Islam
Pada 28 Mei 1998, Pakistan akhirnya secara terbuka menguji bom nuklirnya di wilayah Chagai, Balochistan. Ledakan itu adalah pesan keras kepada India dan dunia: Pakistan kini negara Islam pertama pemilik senjata nuklir.
Reaksi internasional sangat keras. Sanksi ekonomi dijatuhkan. Namun rakyat Pakistan berpesta. AQ Khan dielu-elukan sebagai pahlawan nasional. Dunia Islam, terutama di Timur Tengah dan Asia Selatan, menyambutnya dengan kebanggaan—akhirnya ada kekuatan Muslim dengan daya gentar sejati di dunia modern.
Kontroversi dan Jaringan Nuklir Gelap
Namun AQ Khan juga menghadapi tuduhan kontroversial. Pada awal 2000-an, ia dituduh menjual teknologi nuklir ke Iran, Korea Utara, dan Libya. Di bawah tekanan internasional, Presiden Musharraf menjadikannya tahanan rumah pada 2004, meskipun rakyat tetap menghormatinya. Khan akhirnya dibebaskan dari tahanan rumah pada 2009, dan wafat pada 2021.
Warisan AQ Khan dan Kegagalan Mossad
Kegagalan Mossad dalam menghentikan AQ Khan menunjukkan bahwa bahkan dinas intelijen terbaik pun bisa gagal menghadapi tekad dan kecerdasan luar biasa seorang ilmuwan. Pakistan hari ini tetap menjadi satu dari sembilan negara pemilik bom nuklir di dunia. Dan hingga kini, satu-satunya negara Muslim dalam klub eksklusif tersebut.
Warisan AQ Khan bukan hanya pada teknologi, tetapi pada simbol: bahwa kekuatan, kemandirian, dan tekad bangsa bisa menembus batas politik global. Gagalnya Mossad bukan hanya kegagalan taktis, tapi juga kekalahan simbolis terhadap cita-cita satu bangsa yang tak ingin didikte.








