Tel Aviv – Di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas di Gaza, suara-suara dari dalam Israel sendiri kini mulai menyerukan penghentian perang. Salah satunya datang dari seorang pejabat tinggi lokal: Wali Kota Tel Aviv, Ron Huldai, yang secara terbuka meminta pemerintah untuk segera mencari jalan damai dan menghentikan pertempuran brutal yang telah berlangsung selama berbulan-bulan
Dalam sebuah wawancara khusus yang disiarkan oleh Channel 12 Israel, Huldai menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap dampak sosial, ekonomi, dan psikologis yang dirasakan masyarakat Israel akibat perang ini. Ia menegaskan bahwa eskalasi kekerasan justru akan memperpanjang penderitaan dan tidak membawa solusi jangka panjang bagi keamanan negara.
“Perang ini telah merenggut terlalu banyak nyawa. Baik di Gaza maupun di kota-kota kita sendiri. Warga saya sudah lelah, dan begitu juga saya. Kita harus memikirkan solusi politik, bukan terus mengandalkan kekuatan militer,” ujar Huldai.
Desakan dari Akar Rumput
Pernyataan Huldai tidak datang dalam ruang hampa. Selama beberapa minggu terakhir, unjuk rasa besar-besaran mewarnai jalan-jalan di Tel Aviv, Haifa, dan Yerusalem. Ribuan warga Israel turun ke jalan, membawa spanduk bertuliskan “Stop the War,” “Bring Them Home,” hingga “Negotiation, Not Occupation.” Mereka menuntut pemerintah Netanyahu untuk tidak hanya fokus pada operasi militer di Gaza, tetapi juga untuk memprioritaskan pencarian solusi damai dan pembebasan sandera.
Sejumlah keluarga korban serangan 7 Oktober 2023 bahkan telah menyatakan bahwa mereka merasa dikhianati oleh strategi militer pemerintah yang dinilai lebih mengedepankan balas dendam daripada penyelamatan nyawa.
Kritik Terhadap Netanyahu
Ron Huldai bukan satu-satunya pejabat yang mengkritik kebijakan perang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Beberapa anggota Knesset dari oposisi, bahkan dari koalisi pendukung pemerintah, mulai menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Mereka menuntut audit terhadap anggaran militer yang membengkak serta mempertanyakan efektivitas strategi tempur di Gaza yang tidak menunjukkan hasil signifikan, selain meningkatnya jumlah korban sipil.
Yair Lapid, pemimpin oposisi, menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa “Israel tidak bisa menang dalam perang yang tidak memiliki tujuan politik yang jelas.” Ia menambahkan bahwa keberlanjutan operasi di Gaza hanya akan memperdalam luka dan memperburuk isolasi diplomatik Israel di dunia internasional.
Lihat Juga: Wali Kota Israel Serukan Penghentian Perang Gaza
Kerugian di Kedua Sisi
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza dan lembaga HAM independen menunjukkan bahwa lebih dari 38.000 warga Palestina telah tewas sejak serangan balasan Israel dimulai. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Di pihak Israel, lebih dari 1.200 warga sipil dan tentara tewas, dengan ribuan lainnya mengalami trauma berat.
Kerusakan infrastruktur di Gaza pun kini mencapai level krisis. Rumah sakit, sekolah, dan sistem air bersih hampir lumpuh total. Bantuan kemanusiaan sulit masuk karena blokade ketat dan pengeboman yang terus berlangsung.
Seruan Komunitas Internasional
Seruan Wali Kota Tel Aviv ini disambut positif oleh berbagai negara dan organisasi internasional. PBB melalui Sekjen António Guterres menyatakan bahwa “langkah seperti ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk diplomasi.” Uni Eropa, Norwegia, dan bahkan beberapa anggota parlemen AS turut mendukung gagasan penghentian perang dan kembali ke meja perundingan.
Namun demikian, pemerintah Israel saat ini masih bersikeras bahwa operasi militer akan berlanjut “hingga Hamas dilumpuhkan total.”
Harapan Baru?
Di tengah pekatnya asap perang, suara seperti yang disampaikan oleh Ron Huldai menjadi semacam cahaya kecil yang mungkin bisa menyalakan kembali harapan akan perdamaian. Meskipun tantangan besar masih membentang, termasuk polarisasi politik dan trauma kolektif, semakin kuatnya suara-suara damai dari dalam negeri sendiri menjadi sinyal penting: bahwa tidak semua di Israel sepakat dengan jalan kekerasan.
Waktunya kini menjadi pertaruhan—apakah suara-suara tersebut akan terus membesar dan mengubah arah sejarah, ataukah akan tenggelam dalam dentuman senjata yang belum juga reda?








