Nganjuk — Ratusan warga Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadi korban penipuan berkedok hadiah mobil mewah merek MBG. Modus pelaku cukup sederhana namun meyakinkan: para korban diminta menyerahkan fotokopi KTP dan foto diri dengan janji akan mendapatkan mobil secara cuma-cuma. Alih-alih membawa pulang kendaraan impian, mereka justru kehilangan data pribadi dan sebagian bahkan dimintai sejumlah uang untuk “proses verifikasi”.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah warga melapor ke kepolisian dan media lokal karena merasa telah menjadi korban penipuan. Mereka bercerita bahwa tawaran menggiurkan itu disebarkan melalui pesan berantai WhatsApp dan media sosial oleh akun yang mengatasnamakan perusahaan otomotif besar.
Modus Penipuan: Hadiah Mobil MBG Gratis
Menurut keterangan sejumlah korban, pelaku mengklaim bahwa ada program bagi-bagi mobil gratis dari “perusahaan otomotif asal Korea” bernama MBG sebagai bagian dari kampanye pemasaran. Syaratnya hanya satu: menyerahkan fotokopi KTP dan mengirimkan foto diri sambil memegang KTP ke nomor WhatsApp tertentu. Dalam beberapa kasus, korban juga diminta mentransfer uang sebesar Rp250 ribu hingga Rp1 juta untuk “biaya pengurusan STNK dan BPKB”.
“Awalnya saya dapat info dari teman lewat grup WhatsApp. Karena lihat banyak yang ikut, saya ikut juga. Kirim KTP dan foto sambil pegang KTP. Setelah itu, saya diminta kirim uang Rp350 ribu untuk biaya admin. Tapi sampai sekarang, mobilnya nggak datang-datang,” ujar Rini (32), warga Kecamatan Tanjunganom.
Korban lainnya, Bapak Slamet (45), mengaku awalnya ragu, namun tergoda setelah melihat testimoni dan foto-foto mobil yang diduga palsu. “Saya pikir bener, karena dikirimkan foto orang-orang pegang STNK dan mobil MBG. Tapi sekarang saya sadar itu semua bohong,” katanya, kecewa.
Data Pribadi Dijual? Warga Mulai Khawatir Disalahgunakan
Selain kerugian finansial, banyak korban kini was-was terhadap penyalahgunaan data pribadi mereka. Sebab, pelaku kini tidak bisa lagi dihubungi dan nomor WhatsApp yang digunakan sudah tidak aktif.
“Yang kami khawatirkan sekarang data kami dijual atau disalahgunakan. Kami sudah menyerahkan KTP, foto diri, dan bahkan alamat lengkap. Kami takut nanti digunakan untuk pinjaman online atau kejahatan lain,” ungkap Dedi (29), warga Kecamatan Nganjuk.
Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang literasi digital, Nganjuk Digital Watch, menyoroti kasus ini sebagai bentuk kelalaian dan kurangnya edukasi masyarakat tentang keamanan data pribadi.
Lihat Juga: Ratusan Warga Nganjuk Kena Tipu Usai Diimingi Mobil dan MBG
Polisi Mulai Lakukan Penelusuran
Kapolres Nganjuk, AKBP Muhammad Safi’i, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan dari sejumlah warga terkait kasus penipuan berkedok hadiah mobil MBG. Pihaknya tengah menyelidiki akun media sosial dan nomor yang digunakan oleh pelaku.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan, apalagi yang hanya bermodalkan KTP dan uang transfer. Itu jelas indikasi penipuan,” tegas Kapolres saat konferensi pers, Jumat (27/6).
Polisi juga sedang berkoordinasi dengan tim siber Polda Jawa Timur untuk melacak pelaku yang diduga beroperasi lintas daerah dan memiliki jaringan cukup rapi.
Peringatan Keras: Jangan Gampang Percaya Promo Tak Masuk Akal
Pakar keamanan digital dari Universitas Negeri Malang, Dr. Widiatmoko, menilai kasus ini menjadi peringatan bahwa literasi digital masyarakat masih rendah, terutama terkait validasi informasi di dunia maya.
“Skema penipuan semacam ini sebenarnya klasik, tapi karena dibalut dengan iming-iming hadiah dan menggunakan nama asing seperti MBG, banyak yang tergiur. Padahal perusahaan MBG sendiri tidak ada kaitannya sama sekali dengan program tersebut,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan mengirim data pribadi dan selalu melakukan verifikasi ke sumber resmi.
Penutup: Harapan Akan Keadilan
Korban berharap aparat penegak hukum segera menemukan pelaku dan memberikan keadilan bagi masyarakat yang tertipu. Mereka juga meminta pemerintah daerah lebih aktif dalam melakukan edukasi soal keamanan digital dan penyebaran informasi hoaks di media sosial.
“Semoga pelakunya cepat tertangkap. Ini bukan hanya soal uang, tapi soal kepercayaan dan rasa aman kami sebagai warga,” ujar salah satu korban, sambil menahan haru.
Sementara itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Nganjuk mengaku tengah menyiapkan kampanye literasi digital lanjutan agar masyarakat tidak lagi mudah terjebak pada janji-janji manis di dunia maya yang berujung pahit.






