Siapa Kakek Muryani yang Mengubah Sampah Plastik Jadi BBM?


Wonosobo, Jawa Tengah – Di sebuah sudut kecil lereng pegunungan Dieng, tepatnya di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, nama seorang kakek berusia senja menggema lebih lantang daripada suara mesin pengolahan sampah yang ia bangun sendiri. Dialah Muryani, pria sederhana berusia 70-an tahun, yang oleh warga dijuluki “Kakek BBM”. Bukan tanpa alasan, Muryani berhasil menciptakan alat pengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) — sebuah terobosan yang semestinya menggelegar di panggung nasional, tapi malah tersembunyi di balik dinginnya kabut pegunungan.


Awal Perjalanan: Dari Tukang Las ke Inovator Otodidak

Kakek Muryani bukan ilmuwan lulusan perguruan tinggi, bukan pula mantan pejabat kementerian. Ia hanyalah mantan tukang las dan montir yang berpuluh tahun bekerja keras di Jakarta sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya. Dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar, siapa sangka bahwa ia mampu merancang dan menyempurnakan teknologi pirolisis – sebuah metode pemanasan tanpa oksigen untuk memecah senyawa plastik menjadi cairan hidrokarbon.

“Ilmu saya dari pengalaman dan coba-coba. Saya lihat di YouTube, saya ubah, saya modifikasi, sampai berhasil,” tutur Muryani saat diwawancarai tim jurnalis Energi Rakyat.

Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun di bengkel kecilnya, bereksperimen dengan berbagai jenis plastik, pipa logam bekas, dan tabung-tabung rakitan. Alat rakitannya sederhana, namun mampu menghasilkan solar, bensin, dan minyak tanah dari limbah plastik rumah tangga.


Teknologi Rakyat: Ramah Lingkungan, Rendah Biaya

Teknologi ciptaan Kakek Muryani disebut-sebut mampu mengolah hingga 5 kilogram sampah plastik per siklus pembakaran dan menghasilkan sekitar 3 liter BBM. Menurut pengakuannya, jenis plastik yang bisa diolah pun bervariasi, mulai dari kresek, botol plastik, hingga galon bekas. Prosesnya tidak menggunakan bahan kimia berbahaya, hanya panas dan filtrasi sederhana.

Yang luar biasa, bahan bakarnya telah diuji langsung di mesin genset, motor, bahkan traktor warga. Dan hasilnya? Mesin menyala normal. Tak ada suara kasar, tak ada letupan. Bahkan beberapa petani mulai mengandalkan “bensin dari sampah” itu untuk traktor mereka karena harga solar semakin mahal dan langka.

Namun Muryani tidak tertarik menjual alatnya secara massal. “Biar orang datang dan belajar langsung. Saya ajari. Gratis,” ucapnya.

Lihat Juga: Siapa Kakek Muryani yang Mengubah Sampah Plastik Jadi BBM?


Pemerintah dan Akademisi Masih Diam?

Meski telah viral di media sosial beberapa waktu lalu, perhatian dari kalangan akademisi dan pemerintah masih tergolong minim. Beberapa wartawan lokal, mahasiswa teknik, dan LSM lingkungan sudah mengunjungi tempatnya, tapi hingga kini belum ada dukungan nyata dalam bentuk paten, pelatihan nasional, atau pengembangan skala industri.

Padahal, jika difasilitasi dengan baik, inovasi ini bisa menjawab dua persoalan bangsa sekaligus: krisis energi dan masalah sampah plastik. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu penghasil sampah plastik terbesar di dunia, sementara harga BBM terus berfluktuasi dan menekan masyarakat kecil.


Kakek Muryani: Potret Ketangguhan dan Kesadaran Ekologis

Dalam wawancara kami, Muryani menegaskan bahwa tujuannya bukan mencari kekayaan, melainkan menyelamatkan lingkungan. “Kalau bisa dari sampah jadi energi, kenapa tidak? Yang penting jangan dibakar sembarangan, jangan dibuang ke sungai. Itu dosa,” katanya sambil menatap alat pengolah miliknya yang masih mengepul.

Di usianya yang semakin senja, Muryani berharap akan lahir lebih banyak “penerus rakyat” yang mampu berpikir mandiri dan solutif, tanpa harus selalu bergantung pada pemerintah atau industri besar.


Tuntutan Publik: Apresiasi atau Akan Diambil Orang Lain?

Banyak aktivis lingkungan dan teknologi yang menyerukan agar pemerintah segera memberikan perhatian lebih serius terhadap inovasi semacam ini. Jangan sampai, kata mereka, “teknologi emas” buatan rakyat justru diambil oleh asing, dipatenkan, dan dijual kembali ke negeri ini dengan harga tinggi.

“Kalau inovasi semacam ini ada di negara seperti Jepang, sudah pasti akan diberi laboratorium, dana riset, bahkan masuk kurikulum sekolah,” ujar Dedi Haryanto, pengamat teknologi lingkungan dari Yogyakarta.


Penutup: Inspirasi dari Lereng Dieng

Kisah Kakek Muryani adalah pengingat keras bagi bangsa ini: bahwa inovasi besar tidak selalu lahir dari laboratorium mewah, tetapi bisa dari bengkel reyot di sudut desa. Bahwa solusi krisis bisa muncul dari tangan keriput yang bekerja dengan niat tulus, bukan semata-mata kepentingan industri.

Ia bukan hanya pahlawan lingkungan, tapi simbol semangat “berbuat tanpa menunggu”.

Maka, pertanyaannya bukan lagi siapa Kakek Muryani — tetapi, sampai kapan kita akan membiarkan orang seperti beliau berjalan sendirian?

Related Posts

Kisah Kusrin, Perakit TV dari Barang Bekas yang Dijatuhi Hukuman

Karanganyar, Jawa Tengah — Inovasi dan semangat wirausaha kerap menjadi dambaan bangsa. Namun, tidak semua pelaku inovasi rakyat mendapat ruang untuk berkembang. Kisah Kusrin, seorang teknisi asal Karanganyar, Jawa Tengah,…

Cara Lacak Lokasi Orang Pakai Nomor HP, Ternyata Mudah

JAKARTA – Melacak lokasi seseorang menggunakan nomor HP kini bukan lagi hal yang mustahil. Dengan kemajuan teknologi dan fitur digital yang terus berkembang, masyarakat kini dapat melacak keberadaan seseorang cukup…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *