Prabowo: Kekayaan Kita Sangat Besar, Tapi Banyak Malingnya

Jakarta Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto, kembali menegaskan keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi dan tata kelola kekayaan negara Indonesia. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan dalam forum resmi beberapa waktu lalu, Prabowo menyebut bahwa Indonesia sejatinya adalah negara yang sangat kaya. Namun, kekayaan tersebut selama ini tidak sepenuhnya dinikmati rakyat karena praktik korupsi yang masih merajalela di berbagai sektor.

“Kekayaan kita sangat besar. Alam kita luar biasa. Tapi masih banyak maling, banyak pencuri uang rakyat,” tegas Prabowo dalam pidatonya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik dan memperkuat narasi yang selama ini sering disampaikan mantan Danjen Kopassus itu—bahwa Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi menderita akibat kebocoran anggaran, korupsi, dan lemahnya penegakan hukum.


Kekayaan Alam yang Melimpah

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam paling berlimpah di dunia. Dari cadangan batu bara, nikel, emas, tembaga, hingga sumber daya hayati seperti hutan tropis dan laut yang luas. Namun, ironisnya, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam garis kemiskinan atau nyaris miskin.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), per Maret 2024, lebih dari 25 juta warga Indonesia masih tergolong miskin. Sementara itu, ketimpangan ekonomi tetap menjadi isu yang sulit diatasi.

“Negara lain yang tidak punya sawit, tidak punya tambang, bisa maju. Kita ini punya semua, tapi uangnya bocor,” ujar Prabowo.


Masalah Korupsi yang Mengakar

Ucapan Prabowo menyinggung salah satu akar masalah kronis Indonesia: korupsi. Transparency International dalam laporan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2023 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, peringkat ke-115 dari 180 negara—menunjukkan bahwa persepsi publik terhadap integritas pejabat masih rendah.

Selama dua dekade reformasi, berbagai institusi antikorupsi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah dibentuk. Namun, tantangan tidak lantas sirna. Praktek korupsi bahkan menjangkiti proyek strategis nasional dan program bantuan sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, publik dikejutkan dengan deretan kasus korupsi kelas kakap, mulai dari korupsi bansos, pengadaan barang negara, hingga mafia tambang dan kehutanan.


Komitmen Prabowo untuk Reformasi

Sebagai presiden terpilih, Prabowo mengaku tidak akan tinggal diam. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengambil langkah serius dalam membasmi korupsi dan memperbaiki sistem tata kelola negara.

“Kami akan bentuk sistem yang tidak bisa ditipu. Kita ingin agar tidak ada satu sen pun uang rakyat yang dicuri,” kata Prabowo dalam forum tersebut.

Salah satu pendekatan yang menjadi sorotan adalah penggunaan teknologi digital dan artificial intelligence (AI) untuk mengawasi belanja pemerintah dan memetakan potensi kebocoran anggaran secara real-time.

Selain itu, Prabowo juga mendorong optimalisasi pendapatan negara dari sektor sumber daya alam melalui renegosiasi kontrak dan penguatan pengawasan.

Lihat Juga: Prabowo: Kekayaan Kita Sangat Besar, Tapi Banyak Malingnya


Reaksi Publik dan Harapan ke Depan

Pernyataan Prabowo menuai beragam respons. Banyak pihak menyambut positif sikap tegasnya terhadap korupsi dan harapan bahwa periode pemerintahannya akan menghadirkan perubahan nyata.

Namun, tidak sedikit pula yang skeptis. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Prof. Budi Santosa, menilai bahwa pernyataan keras saja tidak cukup.

“Yang dibutuhkan bukan hanya retorika, tapi keberanian untuk membersihkan internal pemerintahan sendiri, termasuk dari lingkaran elite,” ujarnya.

Aktivis antikorupsi juga menuntut agar pemerintahan ke depan memperkuat lembaga-lembaga pengawas dan memastikan tidak ada kompromi terhadap pelaku korupsi, siapa pun mereka.


Kesimpulan

Pidato Prabowo menjadi sinyal awal arah kebijakan pemerintahannya yang akan datang. Dengan latar belakang sebagai tokoh militer yang dikenal tegas, publik menaruh harapan besar agar dia mampu membawa perubahan sistemik dalam tata kelola kekayaan negara.

Namun, tantangan di depan tidaklah ringan. Melawan korupsi bukan hanya soal menindak pelaku, tetapi juga membenahi sistem yang memungkinkan praktik itu tumbuh subur.

Indonesia memang kaya raya, seperti kata Prabowo. Namun, kekayaan itu harus dijaga dari para “maling” yang selama ini mencuri masa depan bangsa.

Related Posts

80 Persen APBN Bersumber dari Pajak, Apa Dampaknya?

Jakarta – Sekitar 80 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Republik Indonesia ternyata bersumber dari penerimaan pajak. Angka ini menegaskan betapa vitalnya peran pajak sebagai tulang punggung…

Ribuan Pekerja Belum Terima BSU Rp 600.000, Ini Cara Mengatasi

Jakarta, 13 Juli 2025 — Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp 600.000 yang digulirkan pemerintah untuk membantu pekerja terdampak ekonomi belum sepenuhnya cair kepada semua penerima. Ribuan pekerja dari berbagai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *