Jakarta – Nama Hatami belakangan ini mencuat di berbagai media nasional, bukan karena skandal, bukan pula karena keterlibatan dalam kontestasi politik, melainkan karena satu hal yang membuat publik ternganga: harta kekayaan yang luar biasa besar dan tak banyak diketahui sebelumnya. Dalam laporan terbaru dari Lembaga Analisis Kekayaan Publik (LAKP), kekayaan Hatami disebut-sebut melampaui tokoh-tokoh konglomerat mapan di negeri ini. Siapa sebenarnya Hatami? Bagaimana ia mengumpulkan hartanya? Dan mengapa ia baru sekarang menjadi sorotan?
Sosok Misterius dari Timur
Hatami adalah pria asal Makassar, Sulawesi Selatan. Nama lengkapnya, Ahmad Hatami, baru muncul ke permukaan setelah ia terdaftar sebagai salah satu investor utama dalam proyek reklamasi pesisir di kawasan Indonesia timur. Lahir dari keluarga sederhana—ayahnya seorang nelayan dan ibunya pedagang pasar—Hatami dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak suka menonjolkan diri.
Namun, sejak awal dekade 2000-an, ia mulai membangun bisnis kecil-kecilan di bidang perikanan. Tak ada yang menyangka, bisnis itu berkembang pesat hingga menjadi kelompok usaha besar bernama Hatami Group, dengan anak usaha di berbagai sektor mulai dari perikanan, tambang nikel, ekspor hasil laut, hingga investasi properti.
“Dia orang yang sangat hati-hati. Bahkan kami, keluarga dekat, tidak pernah tahu persis berapa besar kekayaannya,” ujar Rusdi, sepupu Hatami yang kini menjabat sebagai direktur operasional Hatami Group.
Menyusuri Jejak Kekayaan
Menurut data dari LAKP, total kekayaan Hatami per akhir 2024 diperkirakan mencapai Rp86 triliun, menjadikannya salah satu orang terkaya di Asia Tenggara. Sebagian besar kekayaan tersebut berbentuk aset riil: tambang, lahan perkebunan, kapal logistik, dan properti di dalam serta luar negeri.
Yang menarik, Hatami hampir tidak memiliki kehadiran digital. Ia tidak aktif di media sosial, jarang diwawancara, dan tidak pernah muncul dalam daftar Forbes sebelumnya. Kekayaannya menjadi sorotan setelah pemerintah membuka data transparansi investor dalam megaproyek infrastruktur nasional.
Salah satu penyumbang terbesar kekayaan Hatami adalah kepemilikannya atas tambang nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara, yang memasok bahan baku baterai ke perusahaan-perusahaan otomotif dunia. Di tengah transisi energi global dan lonjakan permintaan kendaraan listrik, nilai bisnis tersebut melambung drastis.
“Dia membeli konsesi tambang itu pada tahun 2010, saat nilainya masih sangat rendah. Sekarang, nilainya melonjak hampir 30 kali lipat,” kata Dr. Amelia Pohan, analis ekonomi sumber daya alam.
Lihat juga: Menikah, Alasan Megawati Absen Bela Timnas Voli Putri Indonesia di AVC Women’s Volleyball Nation Cup
Dermawan yang Tersembunyi
Meski tertutup, Hatami tidak lupa berbagi. Ia diketahui mendanai pembangunan rumah sakit gratis di dua kabupaten di Sulawesi Selatan, serta menyumbang diam-diam untuk program beasiswa di beberapa universitas lokal. Namun, semua itu dilakukan di bawah yayasan yang tidak menggunakan namanya.
“Dia tidak suka disebut dermawan. Baginya, kalau membantu ya bantu saja, tanpa harus diumumkan,” ujar seorang pengurus yayasan yang enggan disebutkan namanya.
Namun kini, dengan terbukanya data kekayaan, nama Hatami mulai dikenal lebih luas. Ia menjadi sasaran undangan berbagai forum, termasuk dari pemerintah dan institusi internasional. Namun, sejauh ini, ia belum pernah hadir di publik.
Panggilan untuk Transparansi
Di sisi lain, keterbukaan ini juga menimbulkan pertanyaan. Dari mana sumber modal awal Hatami? Bagaimana struktur pajaknya? Apakah semua bisnisnya legal dan patuh terhadap regulasi?
Direktur LAKP, Danu Siregar, menyebutkan bahwa audit kekayaan Hatami masih berjalan. “Belum ditemukan indikasi pelanggaran, tapi tentu kami akan terus memantau. Dalam iklim demokrasi, transparansi kekayaan tokoh ekonomi sangat penting,” jelasnya.
Hatami melalui juru bicaranya mengaku siap diaudit dan terbuka untuk menyampaikan data-data yang dibutuhkan pemerintah. Namun ia menegaskan, dirinya tetap akan menjaga privasi dan tidak ingin menjadi selebritas.
Penutup: Antara Kekayaan dan Kebijaksanaan
Dalam dunia di mana banyak orang kaya berlomba menunjukkan gaya hidup, Hatami justru memilih jalan sepi. Ia membangun kekayaan dengan tenang, mengelolanya dengan cermat, dan menyalurkannya untuk manfaat banyak orang tanpa gembar-gembor.
Kini, masyarakat menunggu, apakah Hatami akan tetap berada di balik layar, ataukah ia akhirnya akan tampil sebagai pemimpin baru dalam ekonomi Indonesia—yang bukan hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya akan nilai dan tanggung jawab sosial








