Jakarta — Sebuah kejadian memilukan mengguncang warga di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Seorang nenek berusia sekitar 70 tahun menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok warga yang menuduhnya sebagai penculik anak. Tanpa verifikasi, tanpa bukti, hanya berdasarkan kecurigaan dan kabar yang beredar di media sosial, nenek itu dipukuli hingga wajahnya lebam dan tubuhnya penuh luka.
Bermula dari Kecurigaan Tak Berdasar
Peristiwa ini terjadi pada Senin sore, sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu, nenek yang belakangan diketahui bernama Siti Rahmah (nama disamarkan), sedang berjalan kaki sambil membawa kantong plastik berisi roti dan air mineral. Ia terlihat berbicara sendiri dengan suara lirih, mengenakan pakaian sederhana dan sandal jepit yang sudah aus.
Beberapa warga yang melihatnya merasa curiga karena mengira nenek itu sedang mengintai anak-anak di sekitar taman bermain. Seorang ibu rumah tangga memotret nenek tersebut dan mengunggahnya ke grup WhatsApp RT dengan pesan berbunyi: “Hati-hati! Ini kayaknya nenek-nenek yang suka culik anak. Tadi ngelihatin anak saya terus!”
Pesan itu langsung menyebar cepat ke berbagai grup lainnya. Tak lama kemudian, beberapa pemuda mendatangi nenek Rahmah dan mulai menginterogasinya. Nenek itu bingung, ketakutan, dan tidak bisa menjawab dengan lancar karena kesulitan bicara akibat kondisi kesehatannya.
Lihat juga: Di tuduh penculik nenek tua di pukuli hingga lebam
Pengeroyokan yang Disaksikan Banyak Orang
Alih-alih memanggil pihak berwenang, sekelompok warga justru mulai menyerangnya secara fisik. Pukulan bertubi-tubi mendarat di kepala, wajah, dan tubuhnya. Ada yang menendang, ada yang memaki-maki. Sebagian warga lain hanya merekam kejadian itu dengan ponsel mereka, tanpa mencoba melerai.
Salah satu saksi mata, Irwan (35), pedagang kaki lima di sekitar lokasi, mencoba menghentikan pengeroyokan tersebut. “Saya teriak-teriak, bilang ‘Stop! Jangan main hakim sendiri!’, tapi orang-orang sudah emosi. Mereka bilang itu penculik, padahal belum tentu,” ujarnya dengan nada kesal.
Irwan akhirnya menghubungi polisi yang datang sekitar 20 menit kemudian. Namun saat aparat tiba, kondisi nenek Rahmah sudah mengenaskan. Wajahnya bengkak, darah menetes dari pelipis, dan ia hanya bisa duduk bersandar di tiang listrik dengan pandangan kosong.
Polisi: “Tidak Ada Bukti Terkait Penculikan”
Kapolsek Kebayoran Lama, AKP Yulianto, mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan bukti bahwa nenek Siti Rahmah terlibat dalam kasus penculikan anak.
“Setelah kami selidiki, yang bersangkutan adalah warga Cipulir, sudah lansia, dan memiliki riwayat gangguan kejiwaan ringan. Ia tinggal sendiri setelah ditinggal suami dan anak-anaknya yang merantau. Tidak ada catatan kriminal atas namanya,” kata Yulianto dalam konferensi pers pada Selasa pagi.
Polisi juga menyatakan akan menyelidiki tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga. Beberapa rekaman video dari ponsel telah dikumpulkan sebagai barang bukti.
Masyarakat yang Terlalu Mudah Terprovokasi
Kejadian ini menjadi cerminan betapa bahayanya informasi yang tersebar tanpa verifikasi di era digital. Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Nina Lestari, menyebut fenomena ini sebagai “kepanikan moral kolektif.”
“Dalam kondisi masyarakat yang mudah terprovokasi, terlebih jika dibumbui isu penculikan yang menyangkut anak-anak, ketakutan bisa berubah menjadi kemarahan membabi buta. Hoaks yang diviralkan menjadi pemicu utama,” jelas Dr. Nina.
Ia menambahkan bahwa edukasi digital dan empati sosial sangat penting untuk mencegah insiden serupa. “Satu klik bisa menyelamatkan atau menghancurkan hidup seseorang,” katanya.
Harapan untuk Keadilan dan Pemulihan
Saat ini, nenek Siti Rahmah sedang menjalani perawatan di RS Fatmawati. Tim medis menyatakan kondisinya mulai stabil meskipun masih trauma. Pihak Dinas Sosial juga telah turun tangan untuk memberikan pendampingan psikologis dan akan menyiapkan penampungan yang lebih layak.
“Yang kami sesalkan adalah, kenapa begitu banyak orang lebih memilih merekam daripada membantu,” ujar seorang perawat yang ikut merawat nenek Rahmah.
Sementara itu, keluarga nenek Rahmah yang dihubungi melalui Dinas Sosial berharap pelaku pengeroyokan bisa diproses hukum. Mereka meminta masyarakat untuk tidak menghakimi orang hanya berdasarkan tampilan atau informasi tidak benar.
Penutup
Insiden tragis yang menimpa nenek Siti Rahmah bukan hanya persoalan kekerasan fisik. Ini adalah cermin kegagalan kita sebagai masyarakat yang seharusnya melindungi kaum lemah, bukan menghakimi mereka. Di tengah derasnya arus informasi, akal sehat dan nurani seharusnya menjadi penuntun, bukan amarah yang lahir dari prasangka.






